Mesjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman dibangun pertama oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 H/1612 M, namun telah terbakar habis pada agresi tentara Belanda kedua pada bulan shafar 1290/April 1873 M.

Rumah Adat Aceh

Rumah tradisional Aceh oleh warga setempat disebut rumoh Aceh. Bentuknya seragam, yakni persegi empat memanjang dari timur ke barat. Konon, letak yang memanjang itu dipilih untuk memudahkan penentuan arah kiblat.

Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek asal Indonesia, Ridwan Kamil. Museum Tsunami Aceh terletak di pusat kota Banda Aceh kira-kira 1 Km dari Mesjid Raya Baiturrahman. Adapun fungsi museum ini adalah sebagai objek sejarah, sebagai pusat penelitian dan pembelajaran tentang bencana tsunami.

pantai Ulee Lheue

Salah satu pantai terindah di Aceh. Pantai ini sangat ramai dikunjungi pengunjung ketika sore hari untuk menikmati indahnya sunset yang tak akan pernah bisa dilupakan. Pantai ini pernah terkena terjangan tsunami tahun 2004.

Taman Sari

Ruang terbuka hijau yang terletak di tengah Kota Banda Aceh ini menyediakan beberapa fasilitas publik seperti taman bermain anak dan hotspot gratis. Taman ini merupakan taman terindah kota Banda Aceh.

Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Saturday, October 26, 2013

Gelar-Gelar Suku Aceh

Suku Aceh mempunyai beberapa gelar yang digunakan pada jaman dahulu (jaman kerajaan Aceh), bahkan sebagian masih dipergunakaan hingga sekarang. Gelar-gelar tersebut masih akrab terdengar di telinga kita karena masih dipergunakan oleh keturunan-keturunannya seperti gelar "teuku". Pada postingan kali saya mengepost beberapa gelar suku Aceh yang masih dipergunakan atau tidak yang saya kutip dari beberapa sumber.


1. TEUNGKU
Gelar keagamaan yang diberikan kepada santri atau guru mengaji yang memiliki pengetahun tinggi mengenai kitab-kitab serta AlQuran dan gelar ini diberikan baik kepada pria maupun wanita

2. TEUKU 
Sebuah gelar ningrat atau kebangsawan khusus untuk pria suku Aceh yang memiliki kekuasaan memimpin wilayah nanggro dan bersifat turun temurun , seringka orang Indonesia diluar Aceh salah dalam penulisan serta penyebutannya. Misalnya Teungku/Tengku Umar padahal Teuku Umur , dan justru mereka menyebutkan Teungku/Tengku Wisnu padahal Teuku Wisnu dan yang lainnya 

3. POCUT
Gelar untuk keturunan bangsawan wanita sama dengan gelang Teuku dan bersifat turun temurun. 

4. LAKSAMANA
Sebuah istilah dalam bahasa Melayu yang artinya panglima tertinggi di angkatan laut , nama Laksamana digunakan karena Aceh juga termasuk ke dalam Bangsa Melayu .

5. ULEEBALANG
Gelar raja peninggalan sistem monarki yang sempat digunakan di Aceh selama berabad-abad. Kini keturunan tersebut diberi gelar Teuku untuk pria dan Pocut untuk wanita

6. CUT
Gelar kebangsaan di Aceh yang di peruntukkan untuk kaum perempuan. Gelar ini diturunkan sampai pula ke anak cucu dan hampir sama dengan Pocut mungkin keanekaragaman wilayah (red-mungkin)

7. MEURAH
Gelar raja-raja di Aceh sebdlum datangnya agama Islam dan dalam bahasa Gayo artinya Marah

8. PANGLIMA SAGO
Gelar yang diberi kepada orang yang meneruskan pemerintahan jikalau raja meninggal sementara anaknya masih kecil

kerajaan Lamuri (Aceh rayeuk/Aceh Lhee Sagoe)


Data tentang sejarah berdirinya Kesultanan Lamuri masih simpang siur. Data yang pernah dikemukakan sejumlah orang tentang kesultanan ini masih bersifat spekulatif dan tentatif. Tulisan ini masih sangat sederhana dan bersifat sementara karena keterbatasan data yang diperoleh.

Secara umum, data tentang kesultanan ini didasarkan pada berita-berita dari luar, seperti yang dikemukakan oleh pedagang-pedagang dan pelaut-pelaut asing (Arab, India, dan Cina) sebelum tahun 1500 M. Di samping itu, ada beberapa sumber lokal, seperti Hikayat Melayu dan Hikayat Atjeh, yang dapat dijadikan rujukan tentang keberadaan kesultanan ini. 

Data tentang lokasi kesultanan ini juga masih menjadi perdebatan. W. P. Groeneveldt, seorang ahli sejarah Belanda, menyebut bahwa kesultanan ini terletak di sudut sebelah barat laut Pulau Sumatera, kini tepatnya berada di Kabupaten Aceh Besar. Ahli sejarah lainnya, H. Ylue menyebut bahwa Lambri atau Lamuri merupakan suatu tempat yang pernah disinggahi pertama kali oleh para pedagang dan pelaut dari Arab dan India. Menurut pandangan seorang pengembara dan penulis asing, Tome Pires, letak Kesultanan Lamuri adalah di antara Kesultanan Aceh Darusalam dan wilayah Biheue. Artinya, wilayah Kesultanan Lamuri meluas dari pantai hingga ke daerah pedalaman. 

Menurut Said, (1961 : 33-34) Lamuri letaknya di Aceh Besar sekarang. Tentang nama Lamuri banyak ejaannya, ada Lambri sebagaimana di sebut oleh Marco Pol lo. Ada Ramini, Ramni atau Lameri, sebagaimana disebut oleh orang- orang Arab. Sejarah melayupun menyebut Lamuri. Orang Tionghoa menyebutnya Lan-li, Lan-wuli, Nan-wuli dan Nanpoli. Menurut In Khordadzbeh (meningga tahun 885) menyebut pula Rami dimana didapati binatang badak, letaknya Sailan, penghasil kemenyan. Saudagar Sulayman (th.851) mencerita perlawatannya lewat lautan India dalam ”Silsilah-al Tawarrikh”, bahwa pulau yang dikunjunginya dibagian ini bernama Ramni. Abu Zayd Hasan (th.916) menyebut Rami, dan juga menceritakan tentang kemenyan dan kapur barus. Mas’udi (meninggal tahun 945) menulis lebih banyak, dia menyebutnya Al-Ramin, dimana didapati tambang emas dan letaknya dekat pulau Fansur yang masyur dengan kapurnya. Seorang muslim parsi bernama Bozorg (955) takkala menunjuk Sriwijaya menyebut letaknya diselatan Lameri. Menurut Bozorg, dari pantai Barus dapat dilakukan perjalanan lewat darat ke Lameri. Ini berarti bahwa masa Sriwijaya, Lameri Aceh sudah berdiri. 

Disamping itu menurut Yuanzhi, (2000: 96) pada musim dingin tahun Yong Le ke- 11 (tahun 1413) armanda Ceng Ho berlayar ke Samudra Barat untuk ke empat kalinya. Armadanya mula-mula ke Campa, kemudian berturut-turut berkunjung ke Jawa, Palembang Malaka, Aceh dan sebagainya. 

Disamping itu Yuanzhi, (2000: 115) menambahkan , bila bertolak dari Kerajaan Pasai menuju ke sebelah barat, kapal akan sampai di Kerajaan Lambri(Lamuri) setelah berlayar 3 hari 3 malam di bawah angin buritan. Baik sang raja maupun rakyatnya muslim. Di sebelah barat dan utaranya menghadap laut luas. Di sebelah selatannya adalah gunung. Sebelah timurnya berbatasan dengan Kerajaan Lide. 

Menurut Zainuddin,(1961: 23) setelah lebih kurang 400 Masehi dan sesudah kedatangan portugis, nama Lambri tak pernah disebut-sebut lagi, melainkan Achem (Atjeh). Orang Portugis dan Italia biasanya mengatakan Achem, Achen dan orang Arab menyebutkan lagi : Asji, atau juga Dachem, dagin, Dacin. Penulis-penulis Perancis mengatakan: Achem, Achen, Achin, Acheh, orang Inggris menyebutnya Atcheen, Acheen, Achin, Acheh, orang Belanda menyebutnya Achem, Achim, Atchin, Atchein, Atjin, Atsjim, Atsjeh dan akhirnya Atjeh. Orang Atjeh sendiri mengatakan ”Atjeh”, begitu pula nama daerah ini tersebut dalam tarikh Melayu. Undang-undang melayu, di dalam surat – surat Atjeh lama ( sarakata ) dan pada mata-mata uang Atjeh, emas(dirham), uang timah (keueh) Atjeh dan sebagainya di sebut Atjeh. 

Menurut T. Iskandar dalam disertasinya De Hikayat Atjeh (1958), diperkirakan bahwa kesultanan ini berada di tepi laut (pantai), tepatnya berada di dekat Krueng Raya, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. H. M. Zainuddin, salah seorang peminat sejarah Aceh, menyebutkan bahwa kesultanan ini terletak di Aceh Besar dekat dengan Indrapatra, yang kini berada di Kampung Lamnga. Peminat sejarah Aceh lainnya, M. Junus Jamil, menyebutkan bahwa kesultanan ini terletak di dekat Kampung Lam Krak di Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. 

Berdasarkan sejumlah data di atas, sejarah berdirinya dan letak kesultanan ini masih menjadi perdebatan di kalangan pakar dan pemerhati sejarah Aceh. Namun demikian, dapat diprediksikan bahwa letak Kesultanan Lamuri berdekatan dengan laut atau pantai dan kemudian meluas ke daerah pedalaman. Persisnya, letak kesultanan ini berada di sebuah teluk di sekitar daerah Krueng Raya. Teluk itu bernama Bandar Lamuri. Kata “Lamuri” sebenarnya merujuk pada “Lamreh” di Pelabuhan Malahayati (Krueng Raya). Istana Lamuri sendiri berada di tepi Kuala Naga (kemudian menjadi Krueng Aceh) di Kampung Pande sekarang ini dengan nama Kandang Aceh. 

Berdasarkan sumber-sumber berita dari pedagang Arab, Kesultanan Lamuri telah ada sejak pertengahan abad ke-IX M. Artinya, kesultanan ini telah berdiri sejak sekitar tahun 900-an Masehi. Pada awal abad ini, Kerajaan Sriwijaya telah menjadi sebuah kerajaan yang menguasai dan memiliki banyak daerah taklukan. Pada tahun 943 M, Kesultanan Lamuri tunduk di bawah kekuasaan Sriwijaya. Meski di bawah kekuasaan Sriwijaya, Kesultanan Lamuri tetap mendapatkan haknya sebagai kerajaan Islam yang berdaulat. Hanya saja, kesultanan ini memiliki kewajiban untuk mempersembahkan upeti, memberikan bantuan jika diperlukan, dan juga datang melapor ke Sriwijaya jika memang diperlukan. 

Menurut Prasasti Tanjore di India, pada tahun 1030 M, Kesultanan Lamuri pernah diserang oleh Kerajaan Chola di bawah kepemimpinan Raja Rayendracoladewa I. Pada akhirnya, Kesultanan Lamuri dapat dikalahkan oleh Kerajaan Chola, meskipun telah memberikan perlawanan yang sangat hebat. Bukti perlawanan tersebut mengindikasikan bahwa Kesultanan Lamuri bukan kerajaan kecil karena terbukti sanggup memberikan perlawanan yang tangguh terhadap kerajaan besar, seperti Kerajaan Chola. 

Berdasarkan sumber-sumber berita dari pedagang Arab, Kesultanan Lamuri merupakan tempat pertama kali yang disinggahi oleh oleh pedagang-pedagang dan pelaut-pelaut yang datang dari India dan Arab. Ajaran Islam telah dibawa sekaligus oleh para pendatang tersebut. Berdasarkan analisis W. P. Groeneveldt, pada tahun 1416 M semua rakyat di Kesultanan Lamuri telah memeluk Islam. Menurut sebuah historiografi Hikayat Melayu, Kesultanan Lamiri (maksudnya adalah Lamuri) merupakan daerah kedua di Pulau Sumatera yang diislamkan oleh Syaikh Ismail sebelum ia mengislamkan Kesultanan Samudera Pasai. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Kesultanan Lamiri jelas merupakan salah satu kerajaan Islam di Aceh. 

Menurut Hikayat Atjeh, salah seorang sultan yang cukup terkenal di Kesultanan Lamuri adalah Sultan Munawwar Syah. Konon, ia adalah moyang dari salah seorang sultan di Aceh yang sangat terkenal, yaitu Sultan Iskandar Muda. Pada akhir abad ke-15, pusat pemerintahan Kesultanan Lamuri dipindahkan ke Makota Alam (kini dinamakan Kuta Alam, Banda Aceh) yang terletak di sisi utara Krueng Aceh. Pemindahan tersebut dikarenakan adanya serangan dari Kerajaan Pidie dan adanya pendangkalan muara sungai. Sejak saat itu, nama Kesultanan Lamuri dikenal dengan nama Kesultanan Makota Alam. 

Dalam perkembangan selanjutnya, tepatnya pada tahun 1513 M, Kesultanan Lamuri beserta dengan Kerajaan Pase, Daya, Lingga, Pedir (Pidie), Perlak, Benua Tamian, dan Samudera Pasai bersatu menjadi Kesultanan Aceh Darussalam di bawah kekuasaan Sultan Ali Mughayat Syah (1496-1528 M). Jadi, bisa dikatakan bahwa Kesultanan Lamuri merupakan bagian dari cikal bakal berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam. Nama kesultanan ini berasal dari salah satu desa di Kabupaten Aceh Besar, yang pusat pemerintahannya berada di Kampung Lamreh. 

2. Silsilah 
(Masih dalam proses pengumpulan data) 

3. Periode Pemerintahan 
Kesultanan Lamuri berumur sekitar lebih dari 6 abad karena terhitung sejak tahun 900-an hingga tahun 1513. Kesultanan ini berakhir setelah menyatu bersama dengan beberapa kerajaan lain di Aceh ke dalam Kesultanan Aceh Darussalam. 

4. Wilayah Kekuasaan 
Wilayah kekuasaan Kesultanan Lamuri mencakup daerah yang kini dikenal sebagai wilayah administratif Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Indonesia. 

5. Struktur Pemerintahan 
Struktur pemerintahan Kesultanan Lamuri tidak jauh berbeda dengan struktur pemerintahan yang berlaku di Kesultanan Samudera Pasai karena kedua kesultanan ini memiliki pola pemerintahan yang berdasarkan pada konsep Islam dan konsep maritim (kelautan). Dalam struktur pemerintahan Kesultanan Lamuri, sultan merupakan penguasa yang tertinggi. Ia dibantu oleh sejumlah pejabat lainnya, yaitu seorang perdana menteri, seorang bendahara, seorang komandan militer Angkatan Laut (dengan gelar laksamana), seorang sekretaris, seorang kepala Mahkamah Agama (atau disebut sebagai qadhi), dan beberapa orang syahbandar yang bertanggung jawab pada urusan pelabuhan (biasanya juga berperan sebagai penghubung komunikasi antara sultan dan pedagang-pedagang dari luar). 


6. Kehidupan Sosial-Budaya 
Kesultanan Lamuri merupakan kerajaan laut agraris. Artinya, dasar kehidupan masyarakat di kesultanan ini di samping mengandalkan hasil pertanian juga mengandalkan hasil perdagangan yang dilakukan masyarakat sekitar dengan pedagang-pedagang dari luar, seperti dari Arab, India, dan Cina. Hasil perdagangan yang dimaksud berupa lada dan jenis rempah-rempah lain, emas, beras, dan hewan ternak. Hasil-hasil perdagangan tersebut memang telah mengundang perhatian banyak perdagangan dari luar untuk datang ke Lamuri dan wilayah Aceh secara keseluruhan. 


(Rampagoe B@ng Dj) 
Sumber: 
* A.Rani Usman “Kerajaan Lamuri”, Sejarah Peradaban Aceh : Yayasan Obor Indonesia, 2003. 
* “Kerajaan Lamuri”, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Lamuri, diakses tanggal 15 Desember 2007. 
*“Pariwisata Nangroe Aceh Darussalam”, dalam http://www.tamanmini.com/anjungan/nad/pariwisata/kota_banda_aceh, 
* Sufi, Rusdi dan Agus Budi Wibowo. 2006. Kerajaan-Kerajaan Islam di Aceh. Banda Aceh: Badan Perpustakaan Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. 

sumber: atjehlheesagoe.blogspot.com 

Friday, October 18, 2013

Pantai Ulee Lheue, Pesona Indah di Hempasan Tsunami


Pantai Ulee Lheue, Aceh, merupakan kawasan wisata yang terkena dampak parah saat tsunami 2004.  Meski sempat meluluhlantakkan hampir seluruh desa ini, Pantai Ulee Lheue tetap memancarkan pesona indah.

Pada 26 Desember 2004, terjadi gempa bumi dahsyat di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh. Gempa terjadi pada pukul 07.58 WIB. Pusat gempa terletak pada kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer.

Gempa berkekuatan 9,3 skala Richter ini disebut terdahsyat dalam kurun 40 tahun terakhir yang menghantam Aceh Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.

Gempa yang mengakibatkan ombak tsunami setinggi 9 meter ini menewaskan sekira 230.000 penduduk di delapan negara. Bencana ini merupakan kematian terbesar sepanjang sejarah.


Indonesia, Sri Lanka, India, dan Thailand merupakan negara dengan jumlah kematian terbesar. Di Indonesia, gempa menelan lebih dari 126.000 korban jiwa. Puluhan gedung hancur oleh gempa utama, terutama di Meulaboh dan Banda Aceh di ujung Sumatra. Di Banda Aceh, sekitar 50 persen bangunan rusak terkena tsunami. Tetapi, kebanyakan korban disebabkan oleh tsunami yang menghantam pantai barat Aceh dan Sumatra Utara.


Salah satu wilayah yang paling parah terkena bencana tsunami adalah Ulee Lheue, sebuah desa kecil di Kota Banda Aceh. Ulee Lheue terletak di tepi pantai, sehingga ketika tsunami menghempas, hampir seluruh desa ini ditelan ombak tingginya. 


Ulee Lheue memiliki sebuah pelabuhan yang menjadi jalan bagi para wisatawan mencapai Pulau Weh di ujung Pulau Sumatra. Untuk mencapai Pulau Weh, wisatawan dapat menggunakan kapal motor cepat Pulo Rondo dengan tarif Rp50 ribu.

Sepanjang perjalanan menuju Pelabuhan Ulee Lheue, Anda dapat melihat banyak rumah dan bangunan yang hancur akibat tsunami. Banyak pembangunan yang dibuat oleh lembaga bantuan asing, namun kawasan ini belum cukup ramai dengan penduduk. Mereka masih trauma dengan musibah tsunami. 


Meski begitu, Pantai Ulee Lheue masih terlihat begitu cantik pascatsunami. Bila air surut, akan nampak karang-karang di perairannya, dan di kejauhan terlihat panorama bukit yang asri. Di kejauhan ada pula menara mercusuar setinggi 100 meter yang terlihat hancur, menyisakan tiangnya saja. 


Pascatsunami, kawasan Ulee Lheue dibenahi oleh pihak Pemerintah Kota Banda Aceh dengan membangun tanggul pengaman dan jalan dua jalur yang menghubungkan Banda Aceh menuju pelabuhan penyeberangan. Bila malam hari lampu warna-warni menghiasi indahnya kawasan ini.


Pantai Ulee Lheue juga mempunyai wahana permainan air yang bisa membuat anak-anak bermain dengan ceria. Ulee Lheue sejak zaman dahulu telah menjadi situs penting bagi masyarakat Banda Aceh, baik sebagai tempat rekreasi maupun sebagai pelabuhan penting.

Panorama di pantai Cermin Ulee Lheue ini amat memikat. Siang hari bagaikan lukisan alam berupa teluk yang dihiasi barisan pegunungan di sebelah selatan serta pulau-pulau kecil di kejauhan, tak kalah cantik saat matahari terbenam.


Pengunjung Cermin Ulee Lheue selain dapat menimati keindahan suasana pantai yang berair tenang, bisa juga memancing ikan karang seperti ikan kerapu atau rambe. Atau bahkan bagi para fishing addict, Anda bisa koordinasi dengan nelayan setempat untuk meminjam atau menyewa perahu dan memancing ke laut.


via travel.okezone.com

Museum Tsunami Aceh, Museum Tsunami pertama kali di Indonesia dengan desain yang unik


Museum Tsunami Aceh, di Banda Aceh, Indonesia, adalah sebuah museum yang dirancang sebagai monumen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 sekaligus pusat pendidikan dan tempat perlindungan darurat andai tsunami terjadi lagi.

Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek asal Indonesia, Ridwan Kamil. Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas 2.500 m² yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris. Di dalamnya, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi — untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami. Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh.

Dari atas, atapnya membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.Bangunan ini memperingati para korban, yang namanya dicantumkan di dinding salah satu ruang terdalam museum, dan warga masyarakat yang selamat dari bencana ini.

Selain perannya sebagai tugu peringatan bagi korban tewas, museum ini juga berguna sebagai tempat perlindungan dari bencana semacam ini di masa depan, termasuk "bukit pengungsian" bagi pengunjung jika tsunami terjadi lagi.

Pameran di museum ini meliputi simulasi elektronik gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004, serta foto korban dan kisah yang disampaikan korban selamat.

via id.wikipedia.org

Masjid Raya Baiturrahman, Mesjid bersejarah dan megah

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, merupakan Masjid yang memiliki lembaran sejarah tersendiri, Masjid ini berada tepat di jantung kota Banda Aceh, Propinsi Aceh. Nama Masjid Raya Baiturrahman ini berasal dari nama Masjid Raya yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 H/1612 M. Mesjid raya ini memang pertama kali dibangun oleh pemerintahan Sultan Iskandar Muda, namun telah terbakar habis pada agresi tentara Belanda   kedua pada bulan shafar 1290/April 1873 M, dimana dalam peristiwa tersebut tewas Mayjen Khohler yang kemudian diabadikan tempat tertembaknya pada sebuah monumen kecil dibawah pohon ketapang/geulumpang dekat pintu masuk sebelah utara mesjid.
Empat tahun setelah Masjid Raya Baiturrahman itu terbakar, pada pertengahan shafar 1294 H/Maret 1877 M, dengan mengulangi janji jenderal Van Sweiten, maka Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman yang telah terbakar itu. Pernyataan ini diumumkan setelah diadakan permusyawaratan dengan kepala-kepala Negeri sekitar Banda Aceh. Dimana disimpulkan bahwa pengaruh Masjid sangat besar kesannya bagi rakyat Aceh yang 100% beragama Islam.
Janji tersebut dilaksanakan oleh Jenderal Mayor Vander selaku Gubernur Militer Aceh pada waktu itu. Dan tepat pada hari Kamis 13 Syawal 1296 H/9 Oktober 1879 M, diletakan batu pertamanya yang diwakili oleh Tengku Qadhi Malikul Adil. Masjid Raya Baiturrahman ini siap dibangun kembali pada tahun 1299 Hijriyah bersamaan dengan kubahnya hanya sebuah saja.
Pada tahun 1935 M, Masjid Raya Baiturrahman ini diperluas bahagian kanan dan kirinya dengan tambahan dua kubah. Dan pada tahun 1975 M terjadinya perluasan kembali. Perluasan ini bertambah dua kubah lagi dan dua buah menara sebelah utara dan selatan. Dengan perluasan kedua ini Masjid Raya Baiturrahman mempunyai lima kubah dan selesai dekerjakan dalam tahun 1967 M.
Dalam rangka menyambut Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional ke-XII pada tanggal 7 s/d 14 Juni 1981 di Banda Aceh, Masjid Raya diperindah dengan pelataran, pemasangan klinkers di atas jalan-jalan dalam pekarangan Masjid Raya. Perbaikan dan penambahan tempat wudhuk dari porselin dan pemasangan pintu krawang, lampu chandelier, tulisan kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an dari bahan kuningan, bagian kubah serta intalasi air mancur di dalam kolam halaman depan.
Dan pada tahun 1991 M, dimasa Gubernur Ibrahim Hasan terjadi perluasan kembali yang meliputi halaman depan dan belakang serta masjidnya itu sendiri. Bagian masjid yang diperluas, meliputi penambahan dua kubah, bagian lantai masjid tempat shalat, ruang perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula dan ruang tempat wudhuk, dan 6 lokal sekolah. Sedangkan perluasan halaman meliputi, taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama dan dua buah minaret.
Dilihat dari sejarah, Masjid Raya Baiturrahman ini mempunyai nilai yang tinggi bagi rakyat Aceh, karena sejak Sultan Iskandar Muda sampai sekarang masih berdiri megah di tengah jantung kota Banda Aceh. Mesjid Raya ini mempunyai berbagai fungsi selain shalat, yaitu tempat mengadakan pengajian, perhelatan acara keagamaan seperti maulid Nabi Besar Muhammad SAW, peringatan 1 Muharram, Musabaqah Tilawatil Qur’an, tempat berteduh bagi warga kota serta para pendatang dan salah satu obyek wisata Islami.
Pada saat terjadi gempa dan tsunami (26 Desember 2004) yang meluluh-lantakkan sebagian wilayah Aceh, mesjid ini selamat tanpa kerusakan yang berarti dan banyak warga kota yang selamat di sini. Kawasan/lingkungan mesjid ini juga dijadikan kawasan syariat Islam, jadi sebaiknya kita jaga dan jangan dikotori oleh perbuatan-perbuatan yang melecehkan mesjid serta melanggar syariat Islam.
via atjehlink.com

Rumoh Aceh, Rumah adat suku Aceh yang elegan

Rumah adat Nangro Aceh Darussalam atau disebut juga Rumoh Aceh merupakan rumah panggung yang memiliki tinggi beragam sesuai dengan arsitektur si pembuatnya. Namun pada kebiasaannya memiliki ketinggian sekitar 2,5-3 meter dari atas tanah. Untuk memasukinya harus menaikit beberapa anak tangga. Terdiri dari tiga atau lima ruangan di dalamnya, untuk ruang utama sering disebut dengan rambat.
Rumoh Aceh yang bertipe tiga ruang memiliki 16 tiang, sedangkan untuk tipe lima ruang memiliki 24 tiang. Bahkan salah satu rumoh Aceh (peninggalan tahun 1800-an) yang berada di persimpangan jalan Peukan Pidie, Kabupaten Sigli, milik dari keluarga Raja-raja Pidie, Almarhum Pakeh Mahmud (Selebestudder Pidie Van Laweung) memiliki 80 tiang, sehingga sering disebut dengan rumoh Aceh besar. Ukuran tiang-tiang yang menjadi penyangga utama rumoh Aceh sendiri berukuran 20 - 35 cm.
Biasanya tinggi pintu sekitar 120 - 150 cm dan membuat siapa pun yang masuk harus sedikit merunduk. Makna dari merunduk ini menurut orang-orang tua adalah sebuah penghormatan kepada tuan rumah saat memasuki rumahnya, siapa pun dia tanpa peduli derajat dan kedudukannya. Selain itu juga, ada yang menganggap pintu rumoh Aceh sebagai hati orang Aceh. Hal ini terlihat dari bentuk fisik pintu tersebut yang memang sulit untuk memasukinya, namun begitu kita masuk akan begitu lapang dada disambut oleh tuan rumah.Saat berada di ruang depan ini atau disebut juga dengan seuramoe keu/seuramoe reungeun, akan kita dapati ruangan yang begitu luas dan lapang, tanpa ada kursi dan meja. Jadi, setiap tamu yang datang akan dipersilahkan duduk secara lesehan di atas tikar.
Bagian-bagian Rumoh Aceh

Pada bagian bawah rumah atau disebut dengan yup moh bisa digunakan untuk menyimpan berbagai benda, seperti penumbuk padi dan tempat menyimpan padi. Tidak hanya itu, bagian yup moh juga sering difungsikan sebagai tempat bermain anak-anak, membuat kain songket Aceh yang dilakoni oleh kaum perempuan, bahkan bisa dijadikan sebagai kandang untuk peliharaan seperti ayam, itik, dan kambing.
  • Ruangan depan atau disebut dengan seuramoe reungeun merupakan ruangan yang tidak berbilik (berkamar-kamar). Dalam sehari-hari ruangan ini berfungsi untuk menerima tamu, tempat tidur-tiduran anak laki-laki, dan tempat anak-anak belajar mengaji saat malam atau siang hari. Disaat-saat tertentu, seperti ada upacara perkawinan atau upacara kenduri, maka ruangan inilah yang menjadi tempat penjamuan tamu untuk makan bersama.
  • Ruangan tengah yang disebut dengan seuramoe teungoh merupakan bagian inti dari rumoh Aceh, maka dari itu banyak pula disebut sebagai rumoh inong (rumah induk). Sedikit perbedaan dengan ruang lain, di bagian ruangan ini terlihat lebih tinggi dari ruangan lainnya, karena tempat tersebut dianggap suci, dan bersifat sangat pribadi. Di ruangan ini terdapat dua buah bilik atau kamar tidur yang terletak di kanan-kiri, posisinya menghadap ke utara atau selatan dengan pintu yang menghadap ke belakang. Di antara kedua bilik itu terdapat pula gang yang menghubungkan ruang depan dan ruang belakang. Rumoh inong biasanya sebagai tempat tidur kepala keluarga. Bila anak perempuan baru saja kawin, maka dia akan menempati rumah inong ini. Sementara orang tuanya akan pindah ke anjong. Bila ada anak perempuannya yang kawin dua orang, orang tua akan pindah ke seuramoe likot, selama belum dapat membuat rumah baru atau merombak rumahnya. Di saat upacara perkawinan, mempelai akan dipersandingkan di bagian rumoh inong, begitu juga saat ada kematian rumoh inong akan digunakan sebagai tempat untuk memandikan mayat.
  • Ruangan belakang disebut seuramoe likot yang memiliki tinggi lantai yang sama dengan seuramoe reungeun, serta tidak mempunyai bilik atau sekat-sekat kamar. Fungsinya sering dipergunakan untuk dapur dan tempat makan bersama keluarga, selain itu juga dipergunakan sebagai ruang keluarga, baik untuk berbincang-bincang atau untuk melakukan kegiatan sehari-hari perempuan seperti menenun dan menyulam. Namun, ada waktunya juga dapur sering dipisah dan malah berada di bagian belakang seuramoe likot. Sehingga ruang tersebut dengan rumoh dapu (dapur) sedikit lebih rendah lagi dibanding lantai seuramoe likot. Di bagian atas sering diberi loteng yang memiliki fungsi untuk menyimpan barang-barang penting keluarga.
Tiang Rumoh Aceh berbahan kayu. Di samping itu, kayu pada rumoh Aceh digunakan pula untuk membuat toi, roek, bara, bara linteung, kuda-kuda, tuleueng rueng, indreng, dan lain sebagainya. Lantai dan dindignya terbuat dari papan. Selain itu, beberapa bahan yang digunakan untuk pembuatan Rumoh Aceh diantaranya Trieng bambu yang digunakan untuk membuat gasen (reng), alas lantai, beuleubah (tempat menyemat atap), dan lain sebagainya. Selain menggunakan bambu, adakalanya untuk membuat lantai dan dinding Rumoh Aceh menggunakan enau.
Untuk memperkuat bangunanya tidak menggunakan paku, tali pengikat yang berbahan tali ijuk, rotan, kulit pohon waru, dan terkadang menggunakan tali plastik. Adapun atapnya menggunakan daun rumbia atau kadang menggunakan daun enau. Sementara pelepah rumbia digunakan untuk membuat rak-rak dan sanding .
Filosofi dan Keunikan Rumoh Aceh

Rumoh Aceh bukan sekadar tempat hunian, tetapi merupakan ekspresi keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi terhadap alam. Adaptasi masyarakat Aceh terhadap lingkungannya dapat dilihat dari bentuk rumoh Aceh yang berbentuk panggung, tiang penyangganya yang terbuat dari kayu pilihan, dindingnya dari papan, dan atapnya dari rumbia. Pemanfaatan alam juga dapat dilihat ketika hendak menggabungkan bagian-bagian rumah yang tidak menggunakan paku tetapi menggunakan pasak atau tali pengikat dari rotan. Walaupun hanya terbuat dari kayu, beratap daun rumbia, dan tidak menggunakan paku, rumoh Aceh bisa bertahan hingga 200 tahun.
Pengaruh keyakinan masyarakat Aceh terhadap arsitektur bangunan rumahnya dapat dilihat pada orientasi rumah yang selalu berbentuk memanjang dari timur ke barat, yaitu bagian depan menghadap ke timur dan sisi dalam atau belakang yang sakral berada di barat. Arah Barat mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis imajiner dengan Ka’bah yang berada di Mekkah. Selain itu, pengaruh keyakinan dapat juga dilihat pada penggunaan tiang-tiang penyangganya yang selalu berjumlah genap, jumlah ruangannya yang selalu ganjil, dan anak tangganya yang berjumlah ganjil.

Selain sebagai manifestasi dari keyakinan masyarakat dan adaptasi terhadap lingkungannya, keberadaan rumoh Aceh juga untuk menunjukan status sosial penghuninya. Semakin banyak hiasan pada rumoh Aceh, maka pastilah penghuninya semakin kaya. Bagi keluarga yang tidak mempunyai kekayaan berlebih, maka cukup dengan hiasan yang relatif sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.

Dalam rumoh Aceh, ada beberapa motif hiasan yang dipakai, yaitu:
  1. Motif keagamaan yang merupakan ukiran-ukiran yang diambil dari ayat-ayat al-Quran;
  2. Motif flora yang digunakan adalah stelirisasi tumbuh-tumbuhan baik berbentuk daun, akar, batang, ataupun bunga-bungaan. Ukiran berbentuk stilirisasi tumbuh-tumbuhan ini tidak diberi warna, jikapun ada, warna yang digunakan adalah merah dan hitam. Ragam hias ini biasanya terdapat pada rinyeuen (tangga), dinding, tulak angen, kindang, balok pada bagian kap, dan jendela rumah;
  3. Motif fauna yang biasanya digunakan adalah binatang-binatang yang sering dilihat dan disukai; Motif alam digunakan oleh masyarakat Aceh di antaranya adalah: langit dan awannya, langit dan bulan, dan bintang dan laut; dan
  4. Motif lainnya, seperti rantee, lidah, dan lain sebagainya.
Wujud dari arsitektur rumoh Aceh merupakan pengejawantahan dari kearifan dalam menyikapi alam dan keyakinan (religiusitas) masyarakat Aceh. Arsitektur rumah berbentuk panggung dengan menggunakan kayu sebagai bahan dasarnya merupakan bentuk adap tasimasyarakat Aceh terhadap kondisi lingkungannya.  Secara kolektif pula, struktur rumah tradisi yang berbentuk panggung memberikan kenyamanan tersendiri kepada penghuninya. Selain itu, struktur rumah seperti itu memberikan nilai positif terhadap sistem kawalan sosial untuk menjamin keamanan, ketertiban, dan keselamatan warga gampong (kampung).
Bagi masyarakat Aceh, membangun rumah bagaikan membangun kehidupan. Hal itulah mengapa pembangunan yang dilakukan haruslah memenuhi beberapa persyaratan dan melalui beberapa tahapan. Persyaratan yang harus dilakukan misalnya pemilihan hari baik yang ditentukan oleh Teungku (ulama setempat), pengadaan kenduri, pengadaan kayu pilihan, dan sebagainya.

Musyawarah dengan keluarga, meminta saran kepada Teungku, dan bergotong royong dalam proses pembangunannya merupakan upaya untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan, menanamkan rasa solidaritas antar sesama, dan penghormatan kepada adat yang berlaku. Dengan bekerjasama, permasalahan dapat diatasi dan harmoni sosial dapat terus dijaga. Dengan mendapatkan petuah dari Teungku, maka rumah yang dibangun diharapkan dapat memberikan keamanan secara jasmani dan ketentraman secara rohani. Tata ruang rumah dengan beragam jenis fungsinya merupakan simbol agar semua orang taat pada aturan.

Ada juga keunikan lainnya dari rumoh Aceh, yakni terletak pada atapnya. Tali hitam atau tali ijuk tersebut mempunyai kegunaan yang sangat berarti. Saat terjadi kebakaran misalnya yang rentan menyerang atap, maka pemilik rumah hanya perlu memotong tali tersebut. Sehingga, seluruh atap yang terhubungan atau terpusat pada tali hitam ini akan roboh dan bisa meminimalisir dampak dari musibah yang terjadi.

Dalam perkembangannya, masyarakat Aceh memiliki anggapan bahwa dalam pembuatan rumoh Aceh memiliki garis imajiner antara rumah dan Ka’bah (motif keagamaan), tetapi sebelum Islam masuk ke Aceh, arah rumah tradisional Aceh memang sudah demikian. Kecenderungan ini nampaknya merupakan bentuk penyikapan masyarakat Aceh terhadap arah angin yang bertiup di daerah Aceh, yaitu dari arah timur ke barat atau sebaliknya.
Jika arah rumoh Aceh menghadap kearah angin, maka bangunan rumah tersebut akan mudah rubuh. Di samping itu, arah rumah menghadap ke utara-selatan juga dimaksudkan agar sinar matahari lebih mudah masuk kekamar-kamar, baik yang berada di sisi timur ataupun di sisi barat. Setelah Islam masuk ke Aceh, arah rumoh Aceh mendapatkan justifikasi keagamaan. Nilai religiusitas juga dapat dilihat pada jumlah ruang yang selalu ganjil, jumlah anak tangga yang selalu ganjil, dan keberadaan gentong air untuk membasuh kaki setiap kali hendak masuk rumoh Aceh.
Adanya bagian ruang yang berfungsi sebagai ruang-ruang privat, seperti rumoh inong, ruang publik, seperti serambi depan, dan ruang khusus perempuan, seperti serambi belakang merupakan usaha untuk menanamkan dan menjaga nilai kesopanan dan etika bermasyarakat. Keberadaan tangga untuk memasuki rumoh Aceh bukan hanya berfungsi sebagai alat untuk naik ke dalam rumah, tetapi juga berfungsi sebagai titik batas yang hanya boleh didatangi oleh tamu yang bukan anggota keluarga atau saudara dekat. Apabila dirumah tidak ada anggota keluarga yang laki-laki, maka (pantang dan tabu) bagi tamu yang bukan keluarga dekat (baca: muhrim) untuk naik ke rumah. Dengan demikian, reunyeun juga memiliki fungsi sebagai alat kontrol sosial dalam melakukan interaksi sehari-hari antar masyarakat.
Namun saat ini, seiring perkembangan zaman yang menuntut semua hal dikerjakan secara efektif dan efisien serta semakin mahalnya biaya pembuatan dan perawatan rumoh Aceh, maka lambat laun semakin sedikit orang Aceh yang membangun rumah tradisional ini. Akibatnya, jumlah rumoh Aceh semakin hari semakin sedikit.
Masyarakat lebih memilih untuk membangun rumah modern berbahan beton yang pembuatan dan pengadaan bahannya lebih mudah dari pada rumoh Aceh yang pembuatannya lebih rumit, pengadaan bahannya lebih sulit, dan biaya perawatannya lebih mahal. Namun, ada juga orang-orang yang karena kecintaannya terhadap arsitektur warisan nenek moyang mereka ini membuat rumoh Aceh yang ditempelkan pada rumah beton mereka.
via kebudayaanindonesia.net

Tamansari Banda Aceh, Alternatif Wisata Outdoor di Tengah Kota

Taman Sari Banda Aceh berada tepat di depan kantor walikota Banda Aceh atau berada langsung disebelah kiri Masjid Baiturrahman Banda Aceh. Letaknya yang strategis sebagai ruang hijau dengan luas 300 meter persegi, menjadikannya sebagai taman multi fungsi, yaitu sebagai tempat rekreasi dan juga merupakan simbol dari pembaruan dan harapan.
Setelah tsunami melanda Aceh pada 24 Desember 2004, Taman Sari menjadi kolam penampungan air laut. Kemudian taman ini direnovasi dan dibuka kembali atas bantuan dana yang diberikan oleh negara asing melalui lembaga kemanusiaan yang masuk ke Aceh.
Program pertama yang dilakukan dengan membersihkan sampah dan lumpur tsunami yang mengenangi areal taman. Setelah areal taman dibersihkan, komponen ruang taman mulai direkonstruksi kembali ke tempatnya semula. Areal taman juga diperluas dengan menambahkan bangunan serba guna yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat pameran, ruang pertemuan serta dilengkapi dengan sarana bermain anak, mushala, dapur, serta toilet umum.
Taman Sari dari sejak dibuka kembali, selain sebagai tempat rekreasi keluarga juga sering difungsikan sebagai tempat kegiatan publik termasuk konser musik panggung terbuka.

Sementara itu, di Taman Sari sedang dibangun sebuah fasilitas hiburan yang antara lain terdiri dari restoran. Fasilitas ini sebelumnya tidak ada di Taman Sari. Taman Sari adalah sebuah taman memanjang di sebelah selatan halaman Masjid Baiturahman di Banda Aceh. Dulu di taman ini ada hotel tempat Bung Karno bertemu dengan tokoh-tokoh pengusaha Aceh. Kabarnya, ketika itu Bung Karno yang berpakaian perlente ditemani rombongan yang berpakaian tidak se’netjes’ dirinya, sehingga para pengusaha segera menyuruh para penjahit membuatkan pakaian yang lebih pantas untuk mereka semua.
Hotel bersejarah ini sudah tidak ada. Sebelum tsunami sebuah hotel lain sedang dibangun menggantikannya. Yang terlihat sekarang adalah tiang-tiang pancang di ujung utara taman yang dekat masjid. Fasilitas baru dengan restoran itu sedang dibangun –mendekati selesai– di dekat ujung selatan taman.

via acehpedia.org

Thursday, October 17, 2013

Hadih Maja sebagai Jati Diri Kedaerahan

Sebagai sebuah tradisi sastra lisan tradisional, hadih maja (peribahasa, ungkapan tradisional) diduga telah ada dan digunakan untuk berbagai kepentingan praktis dalam kehidupan masyarakat Aceh sejak zaman nenek moyang. Tradisi sastra lisan ini tidak diciptakan bila tidak memiliki fungsi tertentu dalam masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat Aceh sehari-hari menunjukkan bahwa tradisi sastra ini sering digunakan untuk mengontrol perilaku anggota masyarakat, khususnya generasi muda, mewariskan nilai-nilai yang dianggap positif, mendidik, dan berbagai fungsi pemakaian lain. Telaah teks hadih maja melalui tulisan ini mencoba menjawab persoalan perlu tidaknya hadih maja ini dilestarikan dan diwariskan ke generasi selanjutnya di tengah berbagai pengaruh global saat ini.

Menurut hemat penulis, hadih maja perlu dilestarikan untuk memperkokoh jati diri kita sebagai salah satu subetnik yang masih bertahan hidup di Nusantara. Hal ini dilatari oleh kenyataan bahwa generasi saat ini sebagian besar telah melupakan nilai-nilai universal yang terdapat dalam hadih maja sebagai sebuah tradisi sastra lisan warisan nenek moyang. Pola perilaku kita saat ini tampaknya semakin jauh dari konsep-konsep perilaku yang ditawarkan oleh nenek moyang kita berdasarkan pengalaman hidup mereka tempo hari.

Hadih maja merupakan istilah lokal ke-Acehan dibentuk dari akar kata hadih dan maja. Katahadih dipungut dari bahasa Arab ‘hadis’ yang hal ini merujuk pada perkataan, pernyataan, ungkapan verbal. Kata maja dipungut dari akar kata ma dan ja yang merujuk pada ‘moyang wanita’ atau nenek moyang, orang tua-tua. Dengan demikian, hadih maja dapat dimaknakan sebagai ‘perkataan, pernyataan, ungkapan-ungkapan verbal yang berasal dari nenek moyang’; kata-kata mutiara orang-orang tua (Lihat Bakar, 1985). Dalam tradisi lisan Indonesia, secara umum genre ini disebut dengan peribahasa, pepatah, ungkapan, bidal, dan pemeo.

Menurut Russel (dalam Dananjaya, 1997:28) peribahasa atau ungkapan tradisional merupakan “kebijaksanaan orang banyak, kecerdesan seseorang”. Itu sebabnya, barangkali, dalam kehidupan sehari-hari tidak semua anggota masyarakat pemilik peribahasa dapat menguasai, memaknai, menghafal, dan menggunakannya secara tepat. Sedangkan menurut Dananjaya (1997:32) seperti halnya folklor lisan lainnya, ungkapan tradisional digunakan dalam berbagai fungsional, antara lain sistem proyeksi, alat pengesahan pranata kebudayaan, media pendidikan, dan pengkritik.

Hadih maja atau ungkapan tradisional hidup dan berkembang dalam masyarakat pemakai sesuai tuntutan zaman. Oleh karena itu, Djamaris mengatakan sifat peribahasa universal. Pada konteks ke-Acehan dapat dilihat dari maté aneuk meupat jirat, reulé adat hana pat ta mita ‘mati anak ada kuburannya, hancur adat tidak di mana dicari’. Hadih maja ini sesuai untuk zaman dahulu, tetapi jika dibawa dalam konteks tsunami, sebagian orang berendapat kurang cocok digunakan. Itulah sebabnya dikatakan, hadih maja bersifat universal.

via www.jkma-aceh.org

Wednesday, October 16, 2013

Sejarah Gampong Lambaed

Asal Usul Gampong (Legenda)
Gampong Lambaed telah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda. Pemerintahan Gampong Lambaed telah dipimpin oleh beberapa keuchik sejak gampong ini berdiri sebagamaina yang tercantum dalam sejarah pemerintahan Gampong. Menurut cerita para petua-petua gampong, tidak ada kepastian kapan sebenarnya gampong ini telah berdiri.

Sejarah Pemerintahan Gampong
Sistem pemerintahan Gampong Lambaed berazaskan pada pola adat/kebudayaan dan peraturan formal yang sudah bersifat umum sejak zaman dahulu, pemerintahan Gampong dipimpin oleh seorang Geuchik dan dibantu oleh dua orang Wakil Geuchik karena pada saat itu dalam susunan pemerintahan gampong belum ada istilah Kepala Dusun. Wakil Geuchik pada saat itu juga memiliki peran dan fungsi yang sama seperti halnya Kepada Dusun pada saat ini. Imum Mukim memiliki peranan yang cukup kuat dalam tatanan pemerintahan Gampong, yaitu sebagai penasehat baik dalam penetapan sebuah kebijakan ditingkat pemerintahan Gampong dan dalam memutuskan sebuah putusan hukum adat.
Tuha Peut menjadi bagian lembaga penasehat Gampong, Tuha Peut juga sangat berperan dan berwenang dalam memberi pertimbangan terhadap pengambilan keputusan-keputusan Gampong, memantau kinerja dan kebijakan yang diambil oleh Geuchik. Imum Meunasah berperan mengorganisasikan kegitan-kegiatan keagamaan.
Urutan pemimpin pemerintahan Lambaed atau Geuchik menurut informasi para para tetua Gampong sejak dari sebelum kemerdekaan Indonesia dampai dengan tahun 2007 adalah sebagai berikut :



Urutan pemimpin pemerintahan Lambaed atau Geuchik menurut informasi para para tetua Gampong sejak dari sebelum kemerdekaan Indonesia dampai dengan tahun 2007 adalah sebagai berikut :
 SEJARAH PEMERINTAHAN GAMPONG
NO
PERIODE
NAMA KEUCHIK
KONDISI PEMERINTAHAN
NARA
SUMBER
KET.

1
- 1944
Makam
Pemerintahan pra kemerdekaan Indonesia dan masih tunduk pada Kerajaan Aceh dan atau pemerintahan kolonial
Tgk. M. Amin


2
1944
– 1974
Banta
Pemerintahan yang masih mengedepankan sifat-sifat kebersamaan dan gotong royong
Tgk. M. Amin


3
1974 – 1976
M. Amin Yahya
Pemerintahan yang masih mengedepankan sifat-sifat kebersamaan dan gotong royong
Tgk. M. Amin


4
1976 – 1977
Idris
Pemerintahan yang masih mengedepankan sifat-sifat kebersamaan dan gotong royong
Tgk. M. Amin


5
1977 – 2001
Hasyem Abdullah
Pembangunan sarana Gampong sudah mulai dilakukan pada era pemerintahan ini
Tgk. M. Amin


6
2001 – 2002
Anwar Arsyad
Mengemban tugas pemerintah desa setelah Keuchik Hasyim Abdullah meninggal dunia akibat konflik
Ramli
Penjabat

7
2002 – 2007
M. Yusuf Jalil
Perangkat Gampong sudah berfungsi dan pada masa ini Aceh berstatus darurat Militer dan Sipil dilanda konflik sehingga pemerintahan desa tidak normal
Ramli


8
2007 – Sekarang
Umar Abdullah
Perangkat Gampong sudah difungsikan sesuai dengan bidang kerjanya masing-masing



Sejarah Pembangunan Gampong
Pelaksanaan pembangunan Lambaed dimulai pada masa pemerintahan Keuchik Banta yaitu pada tahun 1944 yang ditandai dengan pembangunan meunasah untuk kepentingan peribadatan warga dan pelaksanaan kegiatan keagamaan lainnya serta juga difungsikan untuk tempat musyawarah gampong dan kegiatan gampong lainnya. Pembangunan yang dilakukan pada masa itu masih bersifat swadaya masyarakat baik itu dari segi pendanaan maupun kerja pembangunan itu sendiri, semua dilakukan dengan gotong royong bersama-sama.
Setelah itu tidak ada lagi catatan pembangunan (menurut informasi dari tetua gampong) hingga tahun 1977. Pembangunan Gampong Lambaed mulai terlihat kembali pada rentang waktu 1977 hingga 2007. Selama kurun waktu 30 tahun tersebut ada beberapa pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintahan gampong yang dampaknya telah dirasakan oleh masyarakat Lambaed. Pembangunan tersebut meliputi pembangunan Meunasah pada tahun 1977 yang mana menasah tersebut masih digunakan hingga saat ini. selain itu, pembangunan yang dilakukan adalah pembangunag gedung PKK pada tahun 1980-an, saluran Irigasi dan perluasan jalan pada tahun 1990-an dan pengaspalan jalan pada tahun 2007.
Selengkapnya, pembangunan yang dilakukan di gampong Lambaed dari 1944 hingga 2008 adalah sebagai berikut:
 
SEJARAH PEMBANGUNAN GAMPONG
NO
TAHUN
PERISTIWA
DAMPAK
NARA
SUMBER
KET
1
1944
Meunasah Kayu
- Adanya shalat berjamaah
- Adanya tempat musyawarah
- Adanya tempat kegiatan keagamaan
Tgk. M. Amin

2
1977
Meunasah Panggung
- Adanya shalat berjamaah
- Adanya tempat musyawarah
- Adanya tempat kegiatan keagamaan
Tgk. M. Amin

3
1980
Gedung PKK
- adanya kegiatan kaum perempuan
Ramli

4
1992
Saluran irigasi
- Adanya saluran untuk pengairan sawah warga
- Tidak tergenang lagi sawah warga ketika musim penghujan
Ramli

5
1992
Perluasan jalan
- lancar transportasi
Ramli

6
2003
Pembangunan MCK
- Kesehatan dan Kebersihan
Tgk. M. Yusuf

7
2007
Pengaspalan jalan
- lancar transportasi
Umar Abdullah

 Sumber : wawancara dengan tetua gampong
Wilayah Perencanaan
Letak Geografis Gampong
Gampong Lambaed terletak di kecamatan Kuta Baro Kabupaten Aceh Besar dengan luas wilayah ± 200 ha. Secara administrasi dan geografis Gampong Lambaed berbatasan dengan:
1. Sebelah Barat bebatasan dengan Gampong Babah Jorong dan Ateuk Lueng Ie.
2. Sebelah Timur berbatasan dengan Gampong Gue dan Krueng Anoi.
3. Sebelah Utara berbatasan dengan Gampong Lambro Deyah dan Lambro Bileu.
4. Sebelah selatan berbatasan dengan Gampong Cot Puklat dan Melayo.
Kondisi Fisik Dasar Gampong
a. Nama-nama Dusun
Gampong Lambaed terdiri dari 4 Dusun yaitu:
Tabel . 3
NO
NAMA DUSUN
BERBATASAN
UTARA
SELATAN
BARAT
TIMUR
1
Timpo
Dusun Gampong Blang
Gampong Melayo
Dusun Lammangi
Gampong Gue dan Krueng Anoi
2
Gampong Blang
Gampong Lambro Bileu dan Lambro Deyah
Dusun Timpo
Dusun Cot Beurandeh dan Lammangi
Gampong Krueng Anoi
3
Cot Beurandeh
Gampong Babah Jurong dan Lambro Deyah
Dusun Lammangi
Gampong Babah Jurong dan Ateuk Lueng Ie
Dusun Gampong Blang
4
Lammangi
Dusun Gampong Blang
Gampong Cot Puklat dan Meulayo
Gampong Ateuk Lueng Ie
Dusun Timpo
b. Orbitrasi (Jarak dari Pemerintahan Desa)
o Jarak Dengan Pusat Pemerintahan Kecamatan : ± 3 Km
o Jarak Dengan Ibu Kota Kabupaten/Kota Jantho : ± 50 Km
o Jarak Dengan Ibu Kota Propinsi DATI I : ± 10 Km
b. Sarana dan Prasarana/Infrastruktur
1. Perumahan
2. Status Kepemilikan Tanah
Status kepemilikan tanah di desa lambaet terdiri dari:
· Tanah milik pribadi masyarakat
· Tanah milik desa
· Tanah milik adat
3. Lorong
Jalan Lorong 4 buah dengan panjang 2 Km
4. Fasilitas Umum
Fasilitas-fasilitas umum Gampong Lambaet terdiri dari:
· MCK : 4 Unit
· Meunasah : 1 unit
· Gedung PKK : 1 unit
· Saluran Irigasi : ± 2 Km
· Jalan desa : ± 2 Km
c. Sumber-sumber air bersih yang bisa diakses masyarakat
Sumber-sumber air yang bisa diakses oleh masyarkat Gampong Lambaet adalah:
· Satu sumur bor di komplek perumahan bantuan untuk pengungsi korban tsunami.
· Sumur-sumur pribadi yang dimiliki oleh pribadi masyarakat gampong Lambaed.
d. Kondisi Sanitasi secara Umum
Secara umum kondisi sanitasi di Gampong Lambaet adalah sebagai berikut:
· MCK umum masih berfungsi dengan baik.
· Saluaran riol/got tidak ada.
· Tidak semua masyarakat memiliki WC keluarga.
2.2.1. Kondisi Demografis Gampong
Dari tahun ketahun jumlah warga (penduduk ) gampong Lambaed terus bertambah, seiring dengan adanya peningkatan angka kelahiran serta bertambahnya warga pendatang yang selanjutnya menetap di Gampong Lambaed pasca tsunami (tahun 2004). Data-data penduduk gampong Lambaed dapat dilihat pada tabel. 4 dibawah ini.
No
Dusun
Jumlah Jiwa
KK
Jenis Kelamin
Balita
Laki
Perempuan
1
Timpo
151
43
69
82
14
2
Gampong Blang
197
51
83
114
26
3
Lammangi
345
85
178
167
40
4
Cot Beurandeh
173
47
86
87
17
Jumlah penduduk
865
225
415
450
97
Kondisi Sosial Ekonomi Gampong
a. Kondisi Sosisal Kemasyarakatan
Seperti kebanyakan Gampong di Aceh, tatanan kehidupan masyarakat Gampong Lambaed sangat kental dengan sikap solidaritas sesama, dimana kegiatan-kegiatan yang berbaur sosial kemasyarakatan sangat berjalan dan dipelihara. Hal ini terjadi karena adanya ikatan emosional keagamaan yang sangat kuat antara sesama masyarakat. Dimana dalam agama Islam memang sangat ditekankan untuk saling berkasih sayang, membantu meringankan beban saudaranya, dan dituntut pula untuk membina dan memelihara hubungan ukhwah Islamiah antar sesama. Atas landasan inilah sehingga tumbuhnya motivasi masyarakat untuk saling melakukan interaksi sosial dengan baik.
Berikut ini disajikan jenis kegiatan sosial masyarakat dalam kehidupan sehari-hari:
Golongan
Jenis kegiatan sosial
1. Pemuda
· Gotong royong
· Melakukan takziah ke tempat orang meninggal dunia
· Pengajian rutin (Malam Jum’at)
· Berkunjung ke tempat orang sakit
2. Ibu-ibu
· Gotong royong
· Pengajian rutin (wirid Yasin)
· Arisan
· Takziah ke tempat orang meninggal
· Berkunjung ke tempat orang sakit atau melahirkan
· Kegiatan PKK
3. Bapak-bapak
(orang tua)
· Gotong royong
· Bersama-sama melakukan fardhu kifayah apabila ada warga yang meninggal dunia
· Takziah ke tempat orang meninggal
· Berkunjung ke tempat orang sakit
b. Kondisi Ekonomi Gampong
Demikian pula di sektor usaha ekonomi produktif. Warga Lambaed memiliki banyak sektor usaha ekonomi, misalnya, usaha warung kopi, jual beli sembako/kelontong, usaha peternakan, jual ikan keliling, usaha menjahit/bordir,usaha kue kering/basah, pertukangan, lahan pertanian (sawah tadah hujan), tanaman keras (kelapa), dan lain-lain.
Gampong Lambaed merupakan salah satu gampong yang ada dalam Kecamatan Kuta Baro Kabupaten Aceh Besar yang terletak di selatan pusat kecamatan. Sebagian besar penduduknya bermatapencaharian petani , tukang dan buruh bangunan, pedagang, industri rumah tangga.
Namun terkadang masyarakat juga memiliki mata pencaharian variatif/ganda, hal ini disebabkan oleh faktor kesempatan kerja, apabila sedang ada peluang bekerja di proyek bangunan mereka menjadi tukang atau buruh jika sedang tidak ada mereka beralih kepada usaha beternak dan juga factor ketergantungan pada musim yang sedang berjalan.
Berikut data jenis mata pencaharian warga masyarakat Lambaed:
Dusun
Jumlah Penduduk
JmlKK
Mata Pencaharian
Lk
Pr
Total
Petani
Buruh Tani
PNS
Pensiunan
Swasta
Jml
TIMPO
82
69
151
42
70
9
3
1
22
105
GAMPONG BLANG
114
82
196
51
71
20
7
4
30
132
LAMMANGI
167
178
345
85
60
22
12
3
25
122
COT BEURANDEH
87
86
173
47
74
30
1
3
15
123
TOTAL
450
415
865
225
275
81
23
11
92
482
Analisa Pelaku Pembangunan gampong
a. Pelaku Pembangunan
Pembangunan gampong tidak terlepas dari semua pihak, baik dari unsur Masyarakat (Non Pemerintahan) maupun dari unsur Pemerintahan. Dapat kita lihat dari unsur Pemerintahan seperti Geuchik, Tuha Peut, SekDes, Kepala Lorong, serta Kaur dan juga dari Pihak Non Pemerintahan seperti Masyarakat, Pemuda/i serta Ibu-ibu PKK.
NO
PEMERINTAH
NON PEMERINTAH
1
Keuchik
PKK
2
Sekretaris Gampong
Pemuda/i
3
Kaur Pembangunan
Kader Gampong
4
Kaur Pemerintahan
Petani
5
Imum Meunasah
Kelompok Wirid/Yasin
6
Kepala Dusun

7
Tuha Peut




b. Analisa Pelaku Pembangunan
Dalam pembangunan Gampong Lambaedmemang tidak terlepas dari pengaruh pelaku Pembangunan seperti yang termuat dalam Tabel: 7, namun kepentingannya sangat terasa seperti yang dapat kita lihat dalam tabel 8 sebagai berikut:
VARIABEL
KEPENTINGAN
TINGGI
RENDAH
PENGARUH
TINGGI
-Keuchik
-Kaur Pembangunan
-Kaur Pemerintahan
-Pemuda/i
-Kader Gampong
RENDAH
-Sekretaris Gampong
-PKK
-Tuha Peut
-Imum Meunasah
-Kepala Dusun
-Petani
-Kelompok Wirid/Yasin