Mesjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman dibangun pertama oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 H/1612 M, namun telah terbakar habis pada agresi tentara Belanda kedua pada bulan shafar 1290/April 1873 M.

Rumah Adat Aceh

Rumah tradisional Aceh oleh warga setempat disebut rumoh Aceh. Bentuknya seragam, yakni persegi empat memanjang dari timur ke barat. Konon, letak yang memanjang itu dipilih untuk memudahkan penentuan arah kiblat.

Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek asal Indonesia, Ridwan Kamil. Museum Tsunami Aceh terletak di pusat kota Banda Aceh kira-kira 1 Km dari Mesjid Raya Baiturrahman. Adapun fungsi museum ini adalah sebagai objek sejarah, sebagai pusat penelitian dan pembelajaran tentang bencana tsunami.

pantai Ulee Lheue

Salah satu pantai terindah di Aceh. Pantai ini sangat ramai dikunjungi pengunjung ketika sore hari untuk menikmati indahnya sunset yang tak akan pernah bisa dilupakan. Pantai ini pernah terkena terjangan tsunami tahun 2004.

Taman Sari

Ruang terbuka hijau yang terletak di tengah Kota Banda Aceh ini menyediakan beberapa fasilitas publik seperti taman bermain anak dan hotspot gratis. Taman ini merupakan taman terindah kota Banda Aceh.

Friday, October 18, 2013

Xperia Z Ultra, Layar Jumbo Performa Jago


Pertama kali melihat Sony Xperia Z Ultra, dimensi fisiknya yang terbilang luar biasa besar akan segera menyita perhatian. Dengan bentang layar mencapai 6,4 inci, perangkat ini bisa salah dikira sebagai tablet.

Pembuatnya sendiri, Sony, menyebut Xperia Z Utra sebagai smartphone, meski mungkin lebih tepat disebut sebagai "phablet", mengacu pada sebuah kategori perangkat yang lebih besar dari smartphone tetapi masih lebih kecil dari tablet. Jadilah ia salah satu ponsel pintar terbongsor yang beredar saat ini.

Di balik bodi yang lebar itu, Xperia Z Ultra masih menyimpan sejumlah fitur andalan. Apa saja? Simak ulasan berikut ini.

Paket penjualan


Kotak kemasan Sony Xperia Z Ultra

Xperia Z Ultra datang dengan kemasan berwarna putih khas Sony, hanya ukurannya lebih besar dibandingkan kotak serupa milik perangkat lain untuk menampung ponsel pintar berukuran jumbo di dalamnya.

Di samping unit ponsel, Sony turut membundel sejumlah kelengkapan wajib untuk smartphone masa kini seperti charger beserta kabel data micro-USB, beberapa dokumen tertulis, dan earphone model in-ear.


Kelengkapan tambahan yang menyertai Sony Xperia Z Ultra


Sedikit berbeda dari ponsel pintar lainnya, Sony juga membundel sebuah leather case untuk Xperia Z Ultra yang akan melindungi perangkat ini sekaligus bisa digunakan sebagai stand. Di sisi belakang cover terdapat lubang untuk kamera.

Xperia Z Ultra sendiri akan langsung menyambut begitu kotak dibuka. Perangkat ini lebarnya hampir sama dengan kemasan pembungkusnya.

Desain

Ukuran luar biasa dari Xperia Z Ultra semakin terasa saat ia disandingkan dengan Xperia Z, tanpa embel-embel "ultra". Meski sebenarnya termasuk besar dengan bentang layar 5 inci, flagshipterdahulu dari Sony itu tampak mungil di samping Xperia Z Ultra.

Untunglah, meski berukuran besar, Xperia Z Ultra ternyata masih terbilang enteng. Berat perangkat ini yang mencapai kisaran 200 gram terasa ringan dibanding bodinya yang bongsor. Bobot Xperia Z Ultra hanya berselisih sekitar 60 gram dibanding Xperia Z. 

Xperia Z Ultra pun tampak sangat ramping dengan ketebalan hanya 6,5 mm. Ia lebih tipis dibandingkan Xperia Z (7,9 mm), dan bahkan termasuk salah satu ponsel tertipis di dunia yang hanya berselisih sedikit dari Huawei Ascend (6,2 mm).

oik yusuf/ kompas.com
Penampilan bagian depan dan belakang Xperia Z Ultra

Di luar ukurannya itu, tampang Xperia Z Ultra sendiri tak jauh berbeda dibanding smartphone Xperia seri atas lainnya dari Sony, dengan desain kotak yang terlihat sedikit kaku.

Sisi depan dan belakang perangkat ini berwarna hitam dan dilapis kaca mengilap. Sony juga menyediakan varian lain dengan bagian belakang berwarna putih dan ungu. Kombinasi fisik tipis, ukuran besar, dan lapisan kaca licin membuat Xperia Z Ultra agak sulit digenggam.

Bagian muka Xperia Z Ultra tampak simple, dengan tiga buah softbutton "home", "return" dan satu lagi yang akan menampilkan jendela multitasking. Logo Sony terletak di sisi atas bagian depan dan belakang, di bawah unit kamera yang hadir tanpa lampu flash.

Sisi samping perangkat ini pun relatif "bersih" karena hampir semua konektor disembunyikan di balik penutup khusus yang kedap debu dan air. Xperia X Ultra memang mengusung kapabilitas anti-air, yang menjadi salah satu kelebihannya dibanding produk sejenis.

oik yusuf/ kompas.com
Sisi kanan Sony Xperia Z Ultra
oik yusuf/ kompas.com
Sisi kiri Sony Xperia Z Ultra memuat konektor docking untuk keperluan mengisi baterai

Bagian kanan Xperia Z Ultra membuat tombol power, pengatur volume, konektor jack audio 3,5 mm, serta slot micro-SIM card dan micro-SD. Sebuah nampan mungil digunakan sebagai tempat micro-SIM yang akan disisipkan ke dalam ponsel. 

Meski juga dipakai oleh sejumlah ponsel lain yang juga mengusung desain unibody, cara ini terasa agak merepotkan, terlebih karena slot SIM card terletak di balik penutup anti-air. Untunglah, nampan micro-SIM milik Xperia Z Ultra bisa diakses dengan mudah tanpa memakai alat khusus, cukup diraih dengan kuku jari saja.


oik yusuf/ kompas.com
Slot micro-SIM Sony Xperia Z Ultra


Port micro-USB terletak di sisi kiri dan juga tersembunyi di balik penutup khusus. Pengguna harus membuka penutup ini setiap kali akan menghubungkan kabel USB ke ponsel. 

Layar

Tak bisa dipungkiri, daya tarik utama ponsel ini terletak pada layarnya. Resolusi yang diusung memang sama dengan smartphone kelas atas lain dari Sony (1920x1080), tapi produsen itu agaknya sedikit melakukan scaling user interface untuk mengoptimalkan display lega milik Xperia Z Ultra.

Pada gambar di bawah, misalnya Xperia Z tampak mungil dibandingkan Xperia Z Ultra. Secara default, Xperia Z Ultra juga mampu menampung jumlah icon aplikasi yang lebih banyak di deretan shortcut yang terletak di atas tombol "home", meski dengan ukuran icon yang lebih kecil.

oik yusuf/ kompas.com
Sony Xperia Z Ultra (kiri) dibandingkan dengan Xperia Z

Dengan menerapkan scaling tersebut, Sony Xperia Z Ultra mampu menampilkan lebih banyak konten di layar dibandingkan smartphone lain yang memiliki resolusi sebanding. Ini sangat terasa ketika pengguna melakukan hal-hal, seperti berselancar di web. Tampilan Sony Xperia Z Ultra terlihat lebih lega dibanding smartphone lain.

Akan tetapi, karena scaling user interface ini, Xperia Z Ultra menampilkan teks berukuran relatif kecil. Bandingkan tulisan keterangan tanggal pada gambar perbandingan dua smartphone di atas. Aplikasi-aplikasi pihak ketiga pun bisa bermasalah dengan hal tersebut. 

Aplikasi terkenal semacam Twitter dan Google Maps bisa beradaptasi dengan baik, namun tampilan beberapa judul lainnya, seperti benchmark dalam screenshot di bagian "Performa" dari artikel ini, menampilkan font dalam ukuran yang relatif kecil dibanding ukuran layar sehingga agak sulit dibaca. Situ web versi mobile dari sejumlah situs -termasuk Kompas Tekno- pun bisa terlhat seperti "melar" karena efek scaling tadi.

Ketika dipakai bermain game atau menonton video, Layar Xperia Z Ultra mampu memukau penggunanya. Selain karena ukurannya, teknologi Triluminos yang diterapkan Sony pada ponsel ini benar-benar mampu menghasilkan tampilan berkualitas tinggi, dipandang dari sudut manapun. 


oik yusuf/ kompas.com
Layar Sony Xperia Z Ultra memiliki kualitas tampilan sangat baik

Secara subyektif, display Xperia Z Ultra bisa dikatakan sedikit lebih baik dibandingkan Xperia Z. Kontrasnya tinggi, menampilkan warna hitam dengan sangat pekat. Warna-warna pun cemerlang tanpa mengalami oversaturation seperti yang terjadi pada beberapa jenis display AMOLED. 

Software

Xperia Z Ultra datang dengan sistem operasi Android 4.2.2 dalam balutan user interface khas Sony. Secara default terdapat lima buah homescreen yang tak terlalu disesaki berbagai macam service atau aplikasi ekstra.  Dalam hal ini, yang disertakan termasuk player musik Sony Walkman dan layanan toko konten Sony Select.


oik yusuf/ kompas.com
Tampilan antar muka Sony Xperia Z Ultra

Sony menyediakan sejumlah opsi tambahan kustomisasi homescreen di samping shortcut widget dan aplikasi, yaitu pilihan wallpaper dan themes yang bisa diakses langsung dari layar home dengan melakukan zoom out.

Tampilan menu utama aplikasi bisa diorganisasikan lewat sejumlah pilihan yang bisa diakses dengan menggeser layar ke kiri sehingga memunculkan sidebar tambahan. Menghapus aplikasi juga bisa dilakukan dari sini.


oik yusuf/ kompas.com
Layar lockscreen Sony Xperia Z Ultra

Sebagaimana ponsel lain dengan OS Android 4.2 ke atas, lockscreen pada Xperia Z Ultra pun menyediakan akses langsung ke aplikasi kamera dan bisa diimbuhi beberapa macam widget. Pilihannya cukup beragam, mencakup e-mail, kalender, dan Google Now.

Tambahan lain yang cukup menarik untuk soal multi-tasking adalah kemampuan menampilkan lebih dari satu window aplikasi sekaligus dalam satu layar. Ukuran window dapat diubah-ubah sesuai keinginan. Bisa memenuhi setengah layar, seperempatnya, atau hanya menempati sudut kecil saja.

oik yusuf/ kompas.com
Bebrapa window aplikasi tertentu bisa dibuka secara bersamaan dalam satu layar

Akan tetapi, seperti pada ponsel lain yang menerapkan konsep serupa, hanya beberapa aplikasi kecil saja yang bisa ditampilkan dalam mode ini, seperti kalkulator, timer, dan browser. Mereka bisa diakses dari kolom bagian bawah di dalam menu multi-tasking.

Masih soal layar, layaknya phablet, pengguna bisa menggambar dan menulis dengan tangan di layar Xperia Z Ultra. Tak ada perangkat khusus semacam stylus yang disertakan, tapi Sony mengklaim bahwa pengguna bisa memakai pulpen atau pensil biasa untuk menggambar di layar ponsel ini.

Dalam praktiknya, hal tersebut ternyata relatif sulit dilakukan. Untuk beberapa jenis alat tulis, Xperia Z Ultra kesulitan mendeteksi input. Layar pun rawan tergores ujung pena yang tajam meski sudah dilapis Gorilla Glass. 


oik yusuf/ kompas.com
Sony Xperia Z Ultra mendukung penggunaan berbagai macam alat tulis sebagai stylus. Sayang kemampuannya terbatas

Salah satu yang bekerja paling baik di atas layar Xperia Z Ultra adalah sebuah pensil 2B. Meski bisa dipakai untuk mencorat-coret dengan lancar, Xperia Z Ultra tidak memiliki kemampuan pressure sensitive seperti perangkat sejenis yang dilengkapi stylus. Alhasil, ponsel ini kurang cocok untuk dipakai menggambar dengan "serius".

Performa

Ponsel lain mungkin ada yang ukurannya menyaingi Xperia Z Ultra, tapi perangkat ini menunjukkan kelas tersendiri sebagai perangkat high-end versi "jumbo" yang menjadi andalan pembuatnya.

Di balik fisiknya yang elegan, minimalis dan dibuat dengan indah itu, Xperia Z Ultra menyimpan tenaga buas. Dapur pacu perangkat ini diperkuat prosesor Snapdragon 800 berkecepatan 2,3 GHz yang tak lain merupakan salah satu prosesor mobile berbasis ARM terkencang yang ada sekarang.


oik yusuf/ kompas.com
Hasil benchmark AnTuTu, Quadrant, dan 3D Mark Sony Xperia Z Ultra tergolong sangat tinggi

Hasilnya bisa dilihat dalam bentuk angka-angka fantastis di berbagai benchmark yang mendudukkan Xperia Z Ultra di urutan teratas. Kinerjanya melewati sang kakak, Xperia Z, apalagi kalau dibandingkan dengan para jagoan tua dari generasi terdahulu.

Besarnya kekuatan Xperia Z Ultra tersalur pada pengalaman memakainya yang bebas lag, meski ponsel ini terasa sedikit panas ketiga menjalankan aplikasi kelas berat, seperti game dengan grafis kompleks. 

Performa mumpuni tak lantas membuat Xperia Z Ultra jadi boros daya. Berdasarkan pengalamanKompas Tekno, baterai 3.000 mAh milik perangkat ini ternyata bisa bertahan lebih dari seharian tanpa terhubung ke charger.

Untuk memperpanjang umur baterai Xperia Z Ultra, Sony turut menyediakan sebuah mode khusus bernama "Stamina Mode", di mana perangkat ini akan mematikan  koneksi data dari jaringan seluler dan wifi ketika ponsel dalam keadaan Sleep. 

Download dan upload yang sedang dilakukan akan diselesaikan dulu sebelum memutus koneksi data dalam Stamina Mode. Pengguna pun masih bisa menerima panggilan dan SMS, serta mendengar musik.

oik yusuf/ kompas.com
Sony Xperia Z Ultra menyediakan beberapa opsi mode untuk menghemat baterai

Perkiraan waktu hidup baterai pada gambar di atas terlalu optimis, tapi, pada kenyataannya, manfaat "Stamina Mode" memang lumayan terasa. Dalam mode ini, Xperia Z Ultra mampu bertahan hingga sekitar dua hari tanpa charger. 

Sisi negatifnya, ponsel hanya akan mengambil data dari koneksi seluler dan WiFi begitu "dibangunkan" dari kondisi Sleep. Ini berarti notifikasi dari media sosial dan update aplikasi bisa datang bertubi-tubi karena sebelumnya tidak diteruskan ke ponsel. 

Ingin lebih hemat lagi? Ada pilihan "Low Battery Mode" yang akan menekan penggunaan daya lebih jauh dengan mematikan beberapa fungsi non-vital.

Beralih ke ketangguhan fisik, salah satu kemampuan khusus yang dimiliki Xperia Z Ultra adalah ketahanan terhadap air dan debu. Berdasarkan spesifikasi dari Sony, perangkat ini mampu bertahan terendam air di kedalaman 1 meter selama 30 menit. 


oik yusuf/ kompas.com
Sony Xperia Z Ultra sanggup diajak berendam di air

Ketika terendam itu, layar Xperia Z Ultra tak bisa menerima input. Tapi pengguna masih bisa merekam video dengan menjalankan perekaman sesaat sebelum merendam ponsel di dalam air.

Perlu diperhatikan bahwa semua penutup konektor Xperia Z harus berada dalam keadaan tertutup rapat untuk mencegah air masuk, kecuali bagian konektor jack audio 3,5mm yang memang dibiarkan terbuka. Sebelum menancapkan headphone, pastikan lubang konektor tersebut sudah benar-benar kering.

Kamera

Unit kamera Xperia Z Ultra tak dilengkapi dengan lampu flash. Hal tersebut sepertinya merupakan indikasi bahwa Sony tidak  menekankan kemampuan fotografi pada perangkat ini. Mungkin itu lantaran ukurannya yang terbilang sangat besar sehingga canggung saat digunakan untuk memotret dan agak sulit untuk ditarik keluar dari saku secara spontan.


oik yusuf/ kompas.com
Tampilan apilkasi kamera pada Sony Xperia Z Ultra

Walaupun begitu, Xperia Z Ultra tetap bisa digunakan untuk mengambil gambar. Kameranya memiliki sensor 8 megapixel, dengan opsi pengaturan yang cukup lengkap di dalam aplikasi kamera, mencakup exposure compensation, ISO, white balance, metering, dan banyak lagi.

Hasil jepretannya terbilang biasa saja, kalau bukan kurang bagus untuk ukuran smartphone modern. Foto-foto dalam kondisi cahaya ideal sekilas terlihat indah. Tetapi ketika didekatkan akan terlihat bahwa detail yang terekam tidak sebagus atau setajam kamera ponsel lain yang setara. Terdapat artifak berupa kotak-kotak kecil yang mungkin muncul akibat kompresi JPEG dan noise reduction. 


oik yusuf/ kompas.com
Contoh hasil foto Sony Xperia Z Ultra pada kondisi outdoor
oik yusuf/ kompas.com
Crop 100 persen dari gambar di atas

Dalam kondisi dalam ruangan (indoor), kualitas hasil tangkapan gambar Xperia Z Ultra menurun dengan cepat. Noise reduction yang agresif membuat foto tampak seperti lukisan cat air. Warna-warna yang ditampilkan terlihat sedikit pucat. Tanpa flash, pengguna pun terpaksa bergantung sepenuhnya pada kemampuan low-light kamera yang tak terlalu bisa diandalkan.


oik yusuf/ kompas.com
Contoh hasil foto Sony Xperia Z Ultra dalam kondisi indoor
oik yusuf/ kompas.com
Crop 100 persen dari gambar di atas

Untuk gambar bergerak, Xperia Z Ultra bisa merekam video dengan resolusi 1080p dan frame rate 30 FPS. Hasilnya cukup bagus apabila direkam dalam kondisi cahaya ideal. 

Kesimpulan

Performa tinggi dan kapabilitas anti-air adalah pemanis yang menambah daya tarik, tapi menu utama Xperia Z Ultra adalah layarnya yang luar biasa besar untuk ukuran sebuah smartphone. Tak hanya besar, layar ini pun memukau dengan tampilan berkualitas tinggi.

Akan tetapi, ukurannya yang besar itu sekaligus bisa menjadi kelemahan bagi Xperia Z Ultra. Bagi beberapa orang, dimensi fisik yang bongsor ini mungkin terasa mengganggu dan tidak praktis. Ketika menelepon atau mengambil foto, misalnya, Xperia Z Ultra akan terasa canggung dan dijamin menarik perhatian orang lain di sekeliling.

Sony merancang lebar Xperia Z Ultra agar sesuai dengan ukuran paspor. Tujuannya supaya ponsel ini masih bisa masuk ke dalam kantung baju dan celana  yang memang menggunakan lebar paspor sebagai acuan. 


oik yusuf/ kompas.com
Karena berukuran besar, Xperia Z Ultra sulit dimasukkan ke dalam kantung baju ataupun celana

Meski lebarnya sesuai, Xperia Z Ultra terlalu tinggi untuk kantung baju sehingga bagian atasnya akan menyembul keluar, di kantung celana pun si bongsor ini terasa mengganjal. Mungkin akan lebih nyaman jika Xperia Z Ultra diselipkan ke saku jas bagian dalam atau tas.

Karena layar besarnya itu pula, Xperia Z Ultra bisa diangap sebagai gabungan dari smartphone dan tablet kecil, serta bisa menggantikan fungsi kedua perangkat tersebut sekaligus, sambil tetap muat di dalam kantung pakaian. Dilihat dari sudut pandang ini, harga kisaran Rp 7,5 juta yang dipatok untuk Xperia Z Ultra terdengar cukup masuk akal.

Persoalan suka atau tidak dengan layar besar sepenuhnya tergantung pada selera. Sebagian pengguna mungkin merasa tak nyaman dengan ukuran Xperia Z Ultra, tapi pengguna lain boleh jadi justru akan tertarik dengan hal tersebut. Pertanyaannya kemudian, yang manakah Anda?

Sony Xperia Z Ultra

Kelebihan:
+ Kinerja sangat tinggi dengan Snapdragon 800
+ Layar ekstra lega, kualitas tampilan sangat baik
+ Tahan air dan debu
+ Tipis dan ringan untuk perangkat seukurannya
+ Tak memerlukan stylus khusus

Kekurangan:
- Ukuran besar sedikit merepotkan saat membawa dan memakai perangkat
- Kualitas kamera rendah dan tidak dibekali LED flash
- Tak semua alat tulis bisa digunakan dengan mulus sebagai stylus, tidak ada fitur pressure sensitive
- Scaling user interface membuat tampilan beberapa aplikasi terlihat aneh, teks berukuran relatif kecil


Spesifikasi:
- Ukuran layar: 6 inci (1920x1080), kepadatan pixel 344ppi.
- Tipe layar: LCD TFT, dengan teknologi Triluminos
- Prosesor: Qualcomm Snapdragon 800, quad-core 2,2GHz. GPU Adreno 330
- RAM: 2GB
- Storage internal: 16GB
- Ekspansi storage: micro-SD hingga 64GB
- Dimensi fisik: 179 x 92 x 6,5 mm
- Bobot: 212 gram
- Konektivitas: GSM, HSDPA, Wi-Fi 802.11 a/b/g/n/ac, DLNA, LTE , Bluetooth 4.0, NFC, micro-USB.
- Kamera: 8 megapixel, 2 megapixel (depan)
- Kapasitas baterai: 3000 mAh
- Pilihan warna: hitam, putih, ungu


via tekno.kompas.com/

Pantai Ulee Lheue, Pesona Indah di Hempasan Tsunami


Pantai Ulee Lheue, Aceh, merupakan kawasan wisata yang terkena dampak parah saat tsunami 2004.  Meski sempat meluluhlantakkan hampir seluruh desa ini, Pantai Ulee Lheue tetap memancarkan pesona indah.

Pada 26 Desember 2004, terjadi gempa bumi dahsyat di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh. Gempa terjadi pada pukul 07.58 WIB. Pusat gempa terletak pada kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer.

Gempa berkekuatan 9,3 skala Richter ini disebut terdahsyat dalam kurun 40 tahun terakhir yang menghantam Aceh Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Sri Lanka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika.

Gempa yang mengakibatkan ombak tsunami setinggi 9 meter ini menewaskan sekira 230.000 penduduk di delapan negara. Bencana ini merupakan kematian terbesar sepanjang sejarah.


Indonesia, Sri Lanka, India, dan Thailand merupakan negara dengan jumlah kematian terbesar. Di Indonesia, gempa menelan lebih dari 126.000 korban jiwa. Puluhan gedung hancur oleh gempa utama, terutama di Meulaboh dan Banda Aceh di ujung Sumatra. Di Banda Aceh, sekitar 50 persen bangunan rusak terkena tsunami. Tetapi, kebanyakan korban disebabkan oleh tsunami yang menghantam pantai barat Aceh dan Sumatra Utara.


Salah satu wilayah yang paling parah terkena bencana tsunami adalah Ulee Lheue, sebuah desa kecil di Kota Banda Aceh. Ulee Lheue terletak di tepi pantai, sehingga ketika tsunami menghempas, hampir seluruh desa ini ditelan ombak tingginya. 


Ulee Lheue memiliki sebuah pelabuhan yang menjadi jalan bagi para wisatawan mencapai Pulau Weh di ujung Pulau Sumatra. Untuk mencapai Pulau Weh, wisatawan dapat menggunakan kapal motor cepat Pulo Rondo dengan tarif Rp50 ribu.

Sepanjang perjalanan menuju Pelabuhan Ulee Lheue, Anda dapat melihat banyak rumah dan bangunan yang hancur akibat tsunami. Banyak pembangunan yang dibuat oleh lembaga bantuan asing, namun kawasan ini belum cukup ramai dengan penduduk. Mereka masih trauma dengan musibah tsunami. 


Meski begitu, Pantai Ulee Lheue masih terlihat begitu cantik pascatsunami. Bila air surut, akan nampak karang-karang di perairannya, dan di kejauhan terlihat panorama bukit yang asri. Di kejauhan ada pula menara mercusuar setinggi 100 meter yang terlihat hancur, menyisakan tiangnya saja. 


Pascatsunami, kawasan Ulee Lheue dibenahi oleh pihak Pemerintah Kota Banda Aceh dengan membangun tanggul pengaman dan jalan dua jalur yang menghubungkan Banda Aceh menuju pelabuhan penyeberangan. Bila malam hari lampu warna-warni menghiasi indahnya kawasan ini.


Pantai Ulee Lheue juga mempunyai wahana permainan air yang bisa membuat anak-anak bermain dengan ceria. Ulee Lheue sejak zaman dahulu telah menjadi situs penting bagi masyarakat Banda Aceh, baik sebagai tempat rekreasi maupun sebagai pelabuhan penting.

Panorama di pantai Cermin Ulee Lheue ini amat memikat. Siang hari bagaikan lukisan alam berupa teluk yang dihiasi barisan pegunungan di sebelah selatan serta pulau-pulau kecil di kejauhan, tak kalah cantik saat matahari terbenam.


Pengunjung Cermin Ulee Lheue selain dapat menimati keindahan suasana pantai yang berair tenang, bisa juga memancing ikan karang seperti ikan kerapu atau rambe. Atau bahkan bagi para fishing addict, Anda bisa koordinasi dengan nelayan setempat untuk meminjam atau menyewa perahu dan memancing ke laut.


via travel.okezone.com

Museum Tsunami Aceh, Museum Tsunami pertama kali di Indonesia dengan desain yang unik


Museum Tsunami Aceh, di Banda Aceh, Indonesia, adalah sebuah museum yang dirancang sebagai monumen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004 sekaligus pusat pendidikan dan tempat perlindungan darurat andai tsunami terjadi lagi.

Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek asal Indonesia, Ridwan Kamil. Museum ini merupakan sebuah struktur empat lantai dengan luas 2.500 m² yang dinding lengkungnya ditutupi relief geometris. Di dalamnya, pengunjung masuk melalui lorong sempit dan gelap di antara dua dinding air yang tinggi — untuk menciptakan kembali suasana dan kepanikan saat tsunami. Dinding museum dihiasi gambar orang-orang menari Saman, sebuah makna simbolis terhadap kekuatan, disiplin, dan kepercayaan religius suku Aceh.

Dari atas, atapnya membentuk gelombang laut. Lantai dasarnya dirancang mirip rumah panggung tradisional Aceh yang selamat dari terjangan tsunami.Bangunan ini memperingati para korban, yang namanya dicantumkan di dinding salah satu ruang terdalam museum, dan warga masyarakat yang selamat dari bencana ini.

Selain perannya sebagai tugu peringatan bagi korban tewas, museum ini juga berguna sebagai tempat perlindungan dari bencana semacam ini di masa depan, termasuk "bukit pengungsian" bagi pengunjung jika tsunami terjadi lagi.

Pameran di museum ini meliputi simulasi elektronik gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004, serta foto korban dan kisah yang disampaikan korban selamat.

via id.wikipedia.org

Masjid Raya Baiturrahman, Mesjid bersejarah dan megah

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, merupakan Masjid yang memiliki lembaran sejarah tersendiri, Masjid ini berada tepat di jantung kota Banda Aceh, Propinsi Aceh. Nama Masjid Raya Baiturrahman ini berasal dari nama Masjid Raya yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 H/1612 M. Mesjid raya ini memang pertama kali dibangun oleh pemerintahan Sultan Iskandar Muda, namun telah terbakar habis pada agresi tentara Belanda   kedua pada bulan shafar 1290/April 1873 M, dimana dalam peristiwa tersebut tewas Mayjen Khohler yang kemudian diabadikan tempat tertembaknya pada sebuah monumen kecil dibawah pohon ketapang/geulumpang dekat pintu masuk sebelah utara mesjid.
Empat tahun setelah Masjid Raya Baiturrahman itu terbakar, pada pertengahan shafar 1294 H/Maret 1877 M, dengan mengulangi janji jenderal Van Sweiten, maka Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman yang telah terbakar itu. Pernyataan ini diumumkan setelah diadakan permusyawaratan dengan kepala-kepala Negeri sekitar Banda Aceh. Dimana disimpulkan bahwa pengaruh Masjid sangat besar kesannya bagi rakyat Aceh yang 100% beragama Islam.
Janji tersebut dilaksanakan oleh Jenderal Mayor Vander selaku Gubernur Militer Aceh pada waktu itu. Dan tepat pada hari Kamis 13 Syawal 1296 H/9 Oktober 1879 M, diletakan batu pertamanya yang diwakili oleh Tengku Qadhi Malikul Adil. Masjid Raya Baiturrahman ini siap dibangun kembali pada tahun 1299 Hijriyah bersamaan dengan kubahnya hanya sebuah saja.
Pada tahun 1935 M, Masjid Raya Baiturrahman ini diperluas bahagian kanan dan kirinya dengan tambahan dua kubah. Dan pada tahun 1975 M terjadinya perluasan kembali. Perluasan ini bertambah dua kubah lagi dan dua buah menara sebelah utara dan selatan. Dengan perluasan kedua ini Masjid Raya Baiturrahman mempunyai lima kubah dan selesai dekerjakan dalam tahun 1967 M.
Dalam rangka menyambut Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Nasional ke-XII pada tanggal 7 s/d 14 Juni 1981 di Banda Aceh, Masjid Raya diperindah dengan pelataran, pemasangan klinkers di atas jalan-jalan dalam pekarangan Masjid Raya. Perbaikan dan penambahan tempat wudhuk dari porselin dan pemasangan pintu krawang, lampu chandelier, tulisan kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an dari bahan kuningan, bagian kubah serta intalasi air mancur di dalam kolam halaman depan.
Dan pada tahun 1991 M, dimasa Gubernur Ibrahim Hasan terjadi perluasan kembali yang meliputi halaman depan dan belakang serta masjidnya itu sendiri. Bagian masjid yang diperluas, meliputi penambahan dua kubah, bagian lantai masjid tempat shalat, ruang perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula dan ruang tempat wudhuk, dan 6 lokal sekolah. Sedangkan perluasan halaman meliputi, taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama dan dua buah minaret.
Dilihat dari sejarah, Masjid Raya Baiturrahman ini mempunyai nilai yang tinggi bagi rakyat Aceh, karena sejak Sultan Iskandar Muda sampai sekarang masih berdiri megah di tengah jantung kota Banda Aceh. Mesjid Raya ini mempunyai berbagai fungsi selain shalat, yaitu tempat mengadakan pengajian, perhelatan acara keagamaan seperti maulid Nabi Besar Muhammad SAW, peringatan 1 Muharram, Musabaqah Tilawatil Qur’an, tempat berteduh bagi warga kota serta para pendatang dan salah satu obyek wisata Islami.
Pada saat terjadi gempa dan tsunami (26 Desember 2004) yang meluluh-lantakkan sebagian wilayah Aceh, mesjid ini selamat tanpa kerusakan yang berarti dan banyak warga kota yang selamat di sini. Kawasan/lingkungan mesjid ini juga dijadikan kawasan syariat Islam, jadi sebaiknya kita jaga dan jangan dikotori oleh perbuatan-perbuatan yang melecehkan mesjid serta melanggar syariat Islam.
via atjehlink.com

Rumoh Aceh, Rumah adat suku Aceh yang elegan

Rumah adat Nangro Aceh Darussalam atau disebut juga Rumoh Aceh merupakan rumah panggung yang memiliki tinggi beragam sesuai dengan arsitektur si pembuatnya. Namun pada kebiasaannya memiliki ketinggian sekitar 2,5-3 meter dari atas tanah. Untuk memasukinya harus menaikit beberapa anak tangga. Terdiri dari tiga atau lima ruangan di dalamnya, untuk ruang utama sering disebut dengan rambat.
Rumoh Aceh yang bertipe tiga ruang memiliki 16 tiang, sedangkan untuk tipe lima ruang memiliki 24 tiang. Bahkan salah satu rumoh Aceh (peninggalan tahun 1800-an) yang berada di persimpangan jalan Peukan Pidie, Kabupaten Sigli, milik dari keluarga Raja-raja Pidie, Almarhum Pakeh Mahmud (Selebestudder Pidie Van Laweung) memiliki 80 tiang, sehingga sering disebut dengan rumoh Aceh besar. Ukuran tiang-tiang yang menjadi penyangga utama rumoh Aceh sendiri berukuran 20 - 35 cm.
Biasanya tinggi pintu sekitar 120 - 150 cm dan membuat siapa pun yang masuk harus sedikit merunduk. Makna dari merunduk ini menurut orang-orang tua adalah sebuah penghormatan kepada tuan rumah saat memasuki rumahnya, siapa pun dia tanpa peduli derajat dan kedudukannya. Selain itu juga, ada yang menganggap pintu rumoh Aceh sebagai hati orang Aceh. Hal ini terlihat dari bentuk fisik pintu tersebut yang memang sulit untuk memasukinya, namun begitu kita masuk akan begitu lapang dada disambut oleh tuan rumah.Saat berada di ruang depan ini atau disebut juga dengan seuramoe keu/seuramoe reungeun, akan kita dapati ruangan yang begitu luas dan lapang, tanpa ada kursi dan meja. Jadi, setiap tamu yang datang akan dipersilahkan duduk secara lesehan di atas tikar.
Bagian-bagian Rumoh Aceh

Pada bagian bawah rumah atau disebut dengan yup moh bisa digunakan untuk menyimpan berbagai benda, seperti penumbuk padi dan tempat menyimpan padi. Tidak hanya itu, bagian yup moh juga sering difungsikan sebagai tempat bermain anak-anak, membuat kain songket Aceh yang dilakoni oleh kaum perempuan, bahkan bisa dijadikan sebagai kandang untuk peliharaan seperti ayam, itik, dan kambing.
  • Ruangan depan atau disebut dengan seuramoe reungeun merupakan ruangan yang tidak berbilik (berkamar-kamar). Dalam sehari-hari ruangan ini berfungsi untuk menerima tamu, tempat tidur-tiduran anak laki-laki, dan tempat anak-anak belajar mengaji saat malam atau siang hari. Disaat-saat tertentu, seperti ada upacara perkawinan atau upacara kenduri, maka ruangan inilah yang menjadi tempat penjamuan tamu untuk makan bersama.
  • Ruangan tengah yang disebut dengan seuramoe teungoh merupakan bagian inti dari rumoh Aceh, maka dari itu banyak pula disebut sebagai rumoh inong (rumah induk). Sedikit perbedaan dengan ruang lain, di bagian ruangan ini terlihat lebih tinggi dari ruangan lainnya, karena tempat tersebut dianggap suci, dan bersifat sangat pribadi. Di ruangan ini terdapat dua buah bilik atau kamar tidur yang terletak di kanan-kiri, posisinya menghadap ke utara atau selatan dengan pintu yang menghadap ke belakang. Di antara kedua bilik itu terdapat pula gang yang menghubungkan ruang depan dan ruang belakang. Rumoh inong biasanya sebagai tempat tidur kepala keluarga. Bila anak perempuan baru saja kawin, maka dia akan menempati rumah inong ini. Sementara orang tuanya akan pindah ke anjong. Bila ada anak perempuannya yang kawin dua orang, orang tua akan pindah ke seuramoe likot, selama belum dapat membuat rumah baru atau merombak rumahnya. Di saat upacara perkawinan, mempelai akan dipersandingkan di bagian rumoh inong, begitu juga saat ada kematian rumoh inong akan digunakan sebagai tempat untuk memandikan mayat.
  • Ruangan belakang disebut seuramoe likot yang memiliki tinggi lantai yang sama dengan seuramoe reungeun, serta tidak mempunyai bilik atau sekat-sekat kamar. Fungsinya sering dipergunakan untuk dapur dan tempat makan bersama keluarga, selain itu juga dipergunakan sebagai ruang keluarga, baik untuk berbincang-bincang atau untuk melakukan kegiatan sehari-hari perempuan seperti menenun dan menyulam. Namun, ada waktunya juga dapur sering dipisah dan malah berada di bagian belakang seuramoe likot. Sehingga ruang tersebut dengan rumoh dapu (dapur) sedikit lebih rendah lagi dibanding lantai seuramoe likot. Di bagian atas sering diberi loteng yang memiliki fungsi untuk menyimpan barang-barang penting keluarga.
Tiang Rumoh Aceh berbahan kayu. Di samping itu, kayu pada rumoh Aceh digunakan pula untuk membuat toi, roek, bara, bara linteung, kuda-kuda, tuleueng rueng, indreng, dan lain sebagainya. Lantai dan dindignya terbuat dari papan. Selain itu, beberapa bahan yang digunakan untuk pembuatan Rumoh Aceh diantaranya Trieng bambu yang digunakan untuk membuat gasen (reng), alas lantai, beuleubah (tempat menyemat atap), dan lain sebagainya. Selain menggunakan bambu, adakalanya untuk membuat lantai dan dinding Rumoh Aceh menggunakan enau.
Untuk memperkuat bangunanya tidak menggunakan paku, tali pengikat yang berbahan tali ijuk, rotan, kulit pohon waru, dan terkadang menggunakan tali plastik. Adapun atapnya menggunakan daun rumbia atau kadang menggunakan daun enau. Sementara pelepah rumbia digunakan untuk membuat rak-rak dan sanding .
Filosofi dan Keunikan Rumoh Aceh

Rumoh Aceh bukan sekadar tempat hunian, tetapi merupakan ekspresi keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi terhadap alam. Adaptasi masyarakat Aceh terhadap lingkungannya dapat dilihat dari bentuk rumoh Aceh yang berbentuk panggung, tiang penyangganya yang terbuat dari kayu pilihan, dindingnya dari papan, dan atapnya dari rumbia. Pemanfaatan alam juga dapat dilihat ketika hendak menggabungkan bagian-bagian rumah yang tidak menggunakan paku tetapi menggunakan pasak atau tali pengikat dari rotan. Walaupun hanya terbuat dari kayu, beratap daun rumbia, dan tidak menggunakan paku, rumoh Aceh bisa bertahan hingga 200 tahun.
Pengaruh keyakinan masyarakat Aceh terhadap arsitektur bangunan rumahnya dapat dilihat pada orientasi rumah yang selalu berbentuk memanjang dari timur ke barat, yaitu bagian depan menghadap ke timur dan sisi dalam atau belakang yang sakral berada di barat. Arah Barat mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis imajiner dengan Ka’bah yang berada di Mekkah. Selain itu, pengaruh keyakinan dapat juga dilihat pada penggunaan tiang-tiang penyangganya yang selalu berjumlah genap, jumlah ruangannya yang selalu ganjil, dan anak tangganya yang berjumlah ganjil.

Selain sebagai manifestasi dari keyakinan masyarakat dan adaptasi terhadap lingkungannya, keberadaan rumoh Aceh juga untuk menunjukan status sosial penghuninya. Semakin banyak hiasan pada rumoh Aceh, maka pastilah penghuninya semakin kaya. Bagi keluarga yang tidak mempunyai kekayaan berlebih, maka cukup dengan hiasan yang relatif sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.

Dalam rumoh Aceh, ada beberapa motif hiasan yang dipakai, yaitu:
  1. Motif keagamaan yang merupakan ukiran-ukiran yang diambil dari ayat-ayat al-Quran;
  2. Motif flora yang digunakan adalah stelirisasi tumbuh-tumbuhan baik berbentuk daun, akar, batang, ataupun bunga-bungaan. Ukiran berbentuk stilirisasi tumbuh-tumbuhan ini tidak diberi warna, jikapun ada, warna yang digunakan adalah merah dan hitam. Ragam hias ini biasanya terdapat pada rinyeuen (tangga), dinding, tulak angen, kindang, balok pada bagian kap, dan jendela rumah;
  3. Motif fauna yang biasanya digunakan adalah binatang-binatang yang sering dilihat dan disukai; Motif alam digunakan oleh masyarakat Aceh di antaranya adalah: langit dan awannya, langit dan bulan, dan bintang dan laut; dan
  4. Motif lainnya, seperti rantee, lidah, dan lain sebagainya.
Wujud dari arsitektur rumoh Aceh merupakan pengejawantahan dari kearifan dalam menyikapi alam dan keyakinan (religiusitas) masyarakat Aceh. Arsitektur rumah berbentuk panggung dengan menggunakan kayu sebagai bahan dasarnya merupakan bentuk adap tasimasyarakat Aceh terhadap kondisi lingkungannya.  Secara kolektif pula, struktur rumah tradisi yang berbentuk panggung memberikan kenyamanan tersendiri kepada penghuninya. Selain itu, struktur rumah seperti itu memberikan nilai positif terhadap sistem kawalan sosial untuk menjamin keamanan, ketertiban, dan keselamatan warga gampong (kampung).
Bagi masyarakat Aceh, membangun rumah bagaikan membangun kehidupan. Hal itulah mengapa pembangunan yang dilakukan haruslah memenuhi beberapa persyaratan dan melalui beberapa tahapan. Persyaratan yang harus dilakukan misalnya pemilihan hari baik yang ditentukan oleh Teungku (ulama setempat), pengadaan kenduri, pengadaan kayu pilihan, dan sebagainya.

Musyawarah dengan keluarga, meminta saran kepada Teungku, dan bergotong royong dalam proses pembangunannya merupakan upaya untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan, menanamkan rasa solidaritas antar sesama, dan penghormatan kepada adat yang berlaku. Dengan bekerjasama, permasalahan dapat diatasi dan harmoni sosial dapat terus dijaga. Dengan mendapatkan petuah dari Teungku, maka rumah yang dibangun diharapkan dapat memberikan keamanan secara jasmani dan ketentraman secara rohani. Tata ruang rumah dengan beragam jenis fungsinya merupakan simbol agar semua orang taat pada aturan.

Ada juga keunikan lainnya dari rumoh Aceh, yakni terletak pada atapnya. Tali hitam atau tali ijuk tersebut mempunyai kegunaan yang sangat berarti. Saat terjadi kebakaran misalnya yang rentan menyerang atap, maka pemilik rumah hanya perlu memotong tali tersebut. Sehingga, seluruh atap yang terhubungan atau terpusat pada tali hitam ini akan roboh dan bisa meminimalisir dampak dari musibah yang terjadi.

Dalam perkembangannya, masyarakat Aceh memiliki anggapan bahwa dalam pembuatan rumoh Aceh memiliki garis imajiner antara rumah dan Ka’bah (motif keagamaan), tetapi sebelum Islam masuk ke Aceh, arah rumah tradisional Aceh memang sudah demikian. Kecenderungan ini nampaknya merupakan bentuk penyikapan masyarakat Aceh terhadap arah angin yang bertiup di daerah Aceh, yaitu dari arah timur ke barat atau sebaliknya.
Jika arah rumoh Aceh menghadap kearah angin, maka bangunan rumah tersebut akan mudah rubuh. Di samping itu, arah rumah menghadap ke utara-selatan juga dimaksudkan agar sinar matahari lebih mudah masuk kekamar-kamar, baik yang berada di sisi timur ataupun di sisi barat. Setelah Islam masuk ke Aceh, arah rumoh Aceh mendapatkan justifikasi keagamaan. Nilai religiusitas juga dapat dilihat pada jumlah ruang yang selalu ganjil, jumlah anak tangga yang selalu ganjil, dan keberadaan gentong air untuk membasuh kaki setiap kali hendak masuk rumoh Aceh.
Adanya bagian ruang yang berfungsi sebagai ruang-ruang privat, seperti rumoh inong, ruang publik, seperti serambi depan, dan ruang khusus perempuan, seperti serambi belakang merupakan usaha untuk menanamkan dan menjaga nilai kesopanan dan etika bermasyarakat. Keberadaan tangga untuk memasuki rumoh Aceh bukan hanya berfungsi sebagai alat untuk naik ke dalam rumah, tetapi juga berfungsi sebagai titik batas yang hanya boleh didatangi oleh tamu yang bukan anggota keluarga atau saudara dekat. Apabila dirumah tidak ada anggota keluarga yang laki-laki, maka (pantang dan tabu) bagi tamu yang bukan keluarga dekat (baca: muhrim) untuk naik ke rumah. Dengan demikian, reunyeun juga memiliki fungsi sebagai alat kontrol sosial dalam melakukan interaksi sehari-hari antar masyarakat.
Namun saat ini, seiring perkembangan zaman yang menuntut semua hal dikerjakan secara efektif dan efisien serta semakin mahalnya biaya pembuatan dan perawatan rumoh Aceh, maka lambat laun semakin sedikit orang Aceh yang membangun rumah tradisional ini. Akibatnya, jumlah rumoh Aceh semakin hari semakin sedikit.
Masyarakat lebih memilih untuk membangun rumah modern berbahan beton yang pembuatan dan pengadaan bahannya lebih mudah dari pada rumoh Aceh yang pembuatannya lebih rumit, pengadaan bahannya lebih sulit, dan biaya perawatannya lebih mahal. Namun, ada juga orang-orang yang karena kecintaannya terhadap arsitektur warisan nenek moyang mereka ini membuat rumoh Aceh yang ditempelkan pada rumah beton mereka.
via kebudayaanindonesia.net

Tamansari Banda Aceh, Alternatif Wisata Outdoor di Tengah Kota

Taman Sari Banda Aceh berada tepat di depan kantor walikota Banda Aceh atau berada langsung disebelah kiri Masjid Baiturrahman Banda Aceh. Letaknya yang strategis sebagai ruang hijau dengan luas 300 meter persegi, menjadikannya sebagai taman multi fungsi, yaitu sebagai tempat rekreasi dan juga merupakan simbol dari pembaruan dan harapan.
Setelah tsunami melanda Aceh pada 24 Desember 2004, Taman Sari menjadi kolam penampungan air laut. Kemudian taman ini direnovasi dan dibuka kembali atas bantuan dana yang diberikan oleh negara asing melalui lembaga kemanusiaan yang masuk ke Aceh.
Program pertama yang dilakukan dengan membersihkan sampah dan lumpur tsunami yang mengenangi areal taman. Setelah areal taman dibersihkan, komponen ruang taman mulai direkonstruksi kembali ke tempatnya semula. Areal taman juga diperluas dengan menambahkan bangunan serba guna yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat pameran, ruang pertemuan serta dilengkapi dengan sarana bermain anak, mushala, dapur, serta toilet umum.
Taman Sari dari sejak dibuka kembali, selain sebagai tempat rekreasi keluarga juga sering difungsikan sebagai tempat kegiatan publik termasuk konser musik panggung terbuka.

Sementara itu, di Taman Sari sedang dibangun sebuah fasilitas hiburan yang antara lain terdiri dari restoran. Fasilitas ini sebelumnya tidak ada di Taman Sari. Taman Sari adalah sebuah taman memanjang di sebelah selatan halaman Masjid Baiturahman di Banda Aceh. Dulu di taman ini ada hotel tempat Bung Karno bertemu dengan tokoh-tokoh pengusaha Aceh. Kabarnya, ketika itu Bung Karno yang berpakaian perlente ditemani rombongan yang berpakaian tidak se’netjes’ dirinya, sehingga para pengusaha segera menyuruh para penjahit membuatkan pakaian yang lebih pantas untuk mereka semua.
Hotel bersejarah ini sudah tidak ada. Sebelum tsunami sebuah hotel lain sedang dibangun menggantikannya. Yang terlihat sekarang adalah tiang-tiang pancang di ujung utara taman yang dekat masjid. Fasilitas baru dengan restoran itu sedang dibangun –mendekati selesai– di dekat ujung selatan taman.

via acehpedia.org

Thursday, October 17, 2013

Download Samsung Galaxy S4 Original Wallpaper

Samsung merupakan salah satu vendor ponsel Android paling sukses. Mereka sudah menelurkan banyak ponsel android, dengan ciri khas mereka series galaxy. Galaxy teranyar mereka sekarang adalah Samsung Galaxy S4 yang memiliki tampilan yang indah dengan wallpaper yang menarik.
Bagi kamu yang suka mengoleksi wallpaper-wallpaper cantik seperti Wallaper original Samsung Galaxy S4 kamu sudah bisa mendapatkannya sekarang. Karena koleksi wallpaper ini sudah di compress dalam zip dan berukuran besar, saya sarankan mendownload via WIFI agar paket datamu tidak habis.